Thursday, January 25, 2007
Cause I care about you...
Seperti hadiah, ada yang bungkusnya menarik dan ada yang bungkusnya kurang menarik. Yang bungkusnya bagus punya wajah rupawan. Yang bungkusnya kurang menarik punya wajah biasa saja. Tapi kepribadianadalah sisi yang berbeda dari apa yang terlihat, dua yang berbeda itubisa saja memiliki kepribadian yang menarik atau kepribadian yangbiasa saja, atau menjengkelkan. Seperti hadiah, ada yang isinya bagusdan ada yang isinya jelek.
Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukauketika berbagi rasa dengannya, ketika kita tahan menghabiskan waktuberjam-jam saling bercerita dan menghibur, menangis bersama, dantertawa bersama. Kita mencintai dia dan dia mencintai kita. Yangisinya buruk punya jiwa yang terluka. Begitu dalam luka-lukanyasehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai, justru karena ia tidakmerasakan cinta dalam hidupnya. Sayangnya yang kita tangkap darinyaseringkali justru sikap penolakan, dendam, kebencian, iri hati,kesombongan, amarah, dll. Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencoba menghindar dari mereka. Kita tidak tahu bahwa itu semua bukanlah karena mereka pada dasarnya buruk, tetapi ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta karena justru ia membutuhkan cinta kita, membutuhkan empati kita, kesabaran dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka terdalam yang memasung jiwanya.

Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang terluka lututnya berlari bersama kita? Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama? Luka di lututnya dan ketakutan terhadap airlah yang mesti disembuhkan, bukan mencaci mereka karena mereka tidak mau berlari atau berenang bersama kita. Mereka tidak akan bilang bahwa lutut mereka luka atau mereka takut air, mereka akan bilang bahwa mereka tidak suka berlari atau mereka akan bilang berenang itu membosankan. “It's adefense mechanism”. Itulah cara mereka mempertahankan diri. Mereka tidak akan bilang: "Aku tidak bisa menari"Mereka akan bilang: "Menari itu tidak menarik." "Aku membutuhkan kamu""Tidak ada yang cocok denganku." "Aku kesepian" "Teman-temanku sudahlulus semua" "Aku butuh diterima" "Aku ini buruk, siapa yang bakal tahan denganku.." "Aku ingin didengarkan" "Kisah hidupku membosankan.." Mereka semua hadiah buat kita, entah bungkusnya bagusatau kurang menarik, entah isinya bagus atau buruk. Mengapa tertipu oleh kemasan? Hanya ketika kita bertemu jiwa-dengan-jiwa, kita tahu hadiah sesungguhnya yang sudah disiapkan-Nya buat kita. Berikanlah makna di dalam kehidupanmu bukan hanya untuk diri Anda sendiri saja melainkan juga untuk membahagiakan sesama manusia di dlm lingkungan kehidupanmu.

Berikanlah waktumu dgn rasa kasih!
Untuk mengetahui nilainya waktu SATU TAHUN
tanyakanlah kepada mahasiswa yg tidak lulus ujian
Untuk mengetahui nilainya waktu SATU BULAN
tanyakanlah kepada Ibu yg melahirkan bayi secara premature
Untuk mengetahui nilainya waktu SATU MINGGU
tanyalah kepada redaksi dan editor dari majalah mingguan
Untuk mengetahui nilainya waktu SATU JAM
tanyakanlah kepada seorang kekasih yg sedang menunggu
Untuk mengetahui nilainya waktu SATU MENIT tanyakanlah kepada orang yg terlambat naik pesawat
Untuk mengetahui nilainya waktu SATU DETIK
tanyakanlah kepada seorang yang barusan saja mengalami musibah karena kelalaian satu detik
Yesterday is history, tommorow is mistery, today is a gift!
That's why it's called the present!

Seorang sahabat sama seperti satu permata yg tak ternilaiharganya. Seorang kawan bisa membuat kita ceria, membuat kitaterhibur. Mereka meminjamkan kupingnya kepada kita pada saat kitamembutuhkannya. Mereka bersedia membuka hati maupun perasaannya untukberbagi suka dan duka dgn kita pada saat kita membutuhkannya. Makajanganlah buang waktu yang kau miliki, jangan sia-siakan waktu ygsedemikian berharganya. Bagikanlah sebagian dari waktu yg Anda milikiuntuk seorang kawan. Pasti waktu yg Anda berikan tsb akan berbalikkembali seperti juga satu lingkaran walaupun terkadang kita tidak tahudari mana dan dari siapa datangnya. Maka mulailah dengan ucapan "Cause I care about you!""
posted by rezki @ 4:52 AM   0 comments
Saturday, November 25, 2006
Just for us!

Assalamualaikum wr.wb.

Ba'da tahmid wa shalawat,
Ikhwahfillah...
Terinspirasi dengan berbagai hal yang ditemui, di lingkungan sehari-hari dan di dunia maka ingin meneruskan sebuah taujih dari "al-akh" kita tentang "ujian" :

KENAPA AKU DIUJI?
Surah Al-Ankabut ayat 2-3
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.


KENAPA AKU TIDAK MENDAPATKAN APA YANG AKU IDAM-IDAMKAN?
Surah Al-Baqarah ayat 216
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

KENAPA UJIAN SEBERAT INI?
Surah Al-Baqarah ayat 286
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

RASA FRUSTASI?
Surah Al-Imran ayat 139
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.

BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA?
Surah Al-Imran ayat 200
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.
Surah Al-Baqarah ayat 45
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',

APA YANG AKU DAPAT DARI SEMUA INI?
Surah At-Taubah ayat 111
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.

KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
Surah At-Taubah ayat 129
Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal

AKU TAK DAPAT BERTAHAN LAGI!!!!!
Surah Yusuf ayat 87
dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.
Surah An-Nisaa' ayat 86
Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.


Pesan Hasan Al-Banna:
"Sesungguhnya amanah yang ada itu lebih banyak dari waktu yang tersedia, untuk itu bantulah saudaramu dalam menyelesaikannya serta sederhanakanlah apa yang bisa disederhanakan"


Subhanallah..ikhwahfillah....
Mari kita berbenah dan terus berbenah..untuk mempersembahkan yang terbaik dalam masa hidup kita...Dengan torehan kemuliaan dan semangat pantang menyerah... Dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun..selama ALLAH SWT menjadi "..justThe ONE goal.." Insya Allah akan "bahagia" sebagaimana doa yang sering terlantun untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.

For all my friends : Banyak peluang untuk berbenah ..semoga kita mampu dan mau untuk menyambut "seruan" ilahi ini...Amin...

For all : jazakumullah khairan katsira atas "semua"..semoga kami bisa menjadi manusia "pembelajar'. amin...

"Melangkah dengan "CINTA" , Mengharap dengan "ASA" , Menuju ISLAM "JAYA".....Amin".

Allahu Akbar !!!!!!!!

Wassalamualaikum wr.wb

posted by rezki @ 7:21 AM   1 comments
Jangan Takut Jatuh Cinta
Tatkala usia terus merangkak naik sementara calon suami tak kunjung datang, segera keresahan mulai melanda. Pada masa-masa yang terbilang cukup rawan ini seringkali tanpa disadari, ada perilaku-perilaku yang mestinya tak layak dilakukan oleh seorang muslimah yang 'kadung' dijadikan teladan dilingkungannya. Ada muslimah yang menjadi sangat sensitif terhadap acara-acara pernikahan ataupun wacana-wacana seputar jodoh dan pernikahan. Atau bersikap seolah tak ingin segera menikah dengan berbagai alasan seperti karir, studi maupun ingin terlebih dulu membahagiakan orang tua. Padahal, hal itu cuma sebagai pelampiasan perasaan lelah menanti jodoh.
Sebaliknya, ada juga muslimah yang cenderung bersikap over acting. terlebih bila sedang menghadiri acara-acara yang juga dihadiri lawan jenisnya. Biasanya, ia akan melakukan berbagai hal agar “terlihat”, berkomentar hal-hal yang tidak perlu yang gunanya cuma untuk menarik perhatian, atau aktif berselidik jika mendengar ada laki-laki shaleh yang siap menikah. Seperti halnya wanita dimata laki-laki, kajian dengan tema “lelaki” pun menjadi satu wacana favorit yang tak kunjung usai dibicarakan dalam komunitas muslimah.
Haruskah terus menerus bersikap membohongi diri seperti contoh pertama diatas. Betapa lelahnya kita ketika harus berbuat seperti itu sementara seolah tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu dan berharap semoga Allah segera mendatangkan pilihan-Nya. Atau masihkah tidak merasa malu untuk menghinakan diri dengan aksi over acting dan 'caper'.
Menurut Fauzil Adhim, banyaknya muslimah yang belum menikah di usianya yang sudah cukup rawan bukannya tidak siap, tetapi karena mereka tidak pernah mempersiapkan diri. Kesiapan disini, termasuk di dalamnya adalah kesiapan untuk menerima calon yang tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan sebenarnya, meski jika ditilik kembali sesungguhnya lelaki tersebut sudah memiliki persyaratan yang 'sedikit' lebih dibanding lelaki biasa. Misalnya, setidaknya sholatnya benar, akhlaqnya baik, tidak berbuat syirik dan pergaulannya tidak jauh dari orang-orang shaleh. Artinya, lanjut Fauzil, tidak usah mematok kriteria terlalu tinggi. Walaupun sebenarnya, sah-sah saja untuk melakukannya.
Pada keadaan tertentu, seringkali para muslimah seperti tidak berdaya mengatasi kelelahannya mencari -menunggu- jodoh. Padahal, ada satu hal yang boleh dan sah saja untuk dilakukan oleh seorang muslimah, yakni menawarkan diri untuk dipinang. Hanya saja, selain masih banyak yang malu-malu membicarakannya, banyak pula yang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang tabu, karena tidak pernah dicontohkan oleh para orang tua kita. Asalkan pada lelaki yang baik-baik, dalam pandangan Islam sah-sah saja wanita menawarkan diri untuk dipinang.
Senada dengan Fauzil Adhim, Ustadz Ihsan Tanjung dalam salah satu rubrik konsultasi keluarga pernah mengatakan, seorang muslimah sebaiknya mengungkapkan perasaannya -keinginannya untuk dilamar- kepada seorang lelaki shaleh yang menjadi pilihannya, ketimbang dia lebih mungkin terkena dosa zina hati karena terus menerus mengharapkan si lelaki tanpa kejelasan atau kepastian.
Hanya saja, yang mungkin perlu diperhatikan adalah seberapa tinggi daya tawar yang dimiliki oleh para muslimah itu ketika dia harus mengungkapkan perasaannya. Pertanyaan yang sering muncul adalah "seberapa pantas dirinya" saat meminta si lelaki untuk melamar dan menikahinya. Untuk hal ini, sepantasnya bukan kata-kata terlontar dari mulut untuk mengkhabarkan kepantasan diri. Namun, dengan mempertinggi kualitas keshalehahan tanpa mengagungkan kecantikan wajah, mengkedepankan akhlaq yang baik sebagai pakaian sehari-harinya disamping juga ia perlu membenahi penampilannya untuk sekedar meningkatkan kepercayaan diri, dan menjaga mata pandangannya untuk selalu bercermin kepada hati, karena disanalah cinta dapat berkembang.
Bagi mereka, Kepentingan menghaluskan wajah tidak mengalahkan kepentingannya untuk menghaluskan jiwanya, karena kecantikan yang murni justru terpancar dari jiwa yang cantik (inner beauty). Kecantikan seperti inilah yang senantiasa tumbuh sepanjang waktu. Jika hal-hal itu sudah dipersiapkan sebaik mungkin dan terpatri menjadi hiasan diri, maka melangkahlah untuk menjemput impian. Namun demikian, perlu juga rasanya untuk melatih menata hati dan berjiwa besar jika terpaksa harus bertepuk sebelah tangan atau menerima kenyataan diluar harapan. Wallahu a'lam bishshowaab (Bayu Gautama)
posted by rezki @ 7:19 AM   1 comments
JIKA

Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa tidak dinikmati saja,
Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.

Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.

Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,
Sedang menahan diri adalah lebih berpahala.

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya,
Sedang taubat itu lebih utama.

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,
Sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya.

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia,
Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia agar sejahtera.

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,
Sedang memberi akan lebih banyak menuai arti.

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dirasakan sendiri,
Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,
Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

Suatu hari nanti,
Saat semua telah menjadi masa lalu
Aku ingin ada di antara mereka
Yang beralaskan di atas permadani
Sambil bercengkerama dengan tetangganya
Saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu
Hingga mereka mendapat anugerah itu.

posted by rezki @ 7:16 AM   0 comments
Jilbabku

Publikasi : 19-07-2004

KotaSantri.com : "Kenapa kamu pake jilbab?"
Berbagai variasi aku menjawab pertanyaan itu, tapi intinya aku mengatakan bahwa itu sebagai rasa terimakasih pada Allah SWT yang telah mengkaruniakan aku segala macam nikmat yang begitu banyak. Alasan itu sebagai perumpamaan atas alasan yang belum aku dapatkan jawabannya secara pasti kenapa aku tergerak memakai pakaian yang selalu menginspirasikan setiap aku memilih pakaian. Hal itu sudah sejak lama berlangsung, sejak dari SMA, hingga kemudian Allah memberi kekuatan untuk mendobrak keraguanku memakainya.

Berbagai persepsi orang menilai keberadaan aturan berpakaian yang membatasi pandangan mata itu. Semua orang bebas berpendapat dan menilai berdasarkan pandangan masing-masing. Itu hak asazi. Hak setiap orang, sebagaimana aku berhak menentukan bagaimana caraku berpakaian. Perbedaan sudut pandang tidak seharusnya memisahkan manusia sebagai makhluk sosial. Manusia diciptakan Allah dengan berbagai macam perbedaan, dan itulah yang membuat hidup jadi lebih bergairah dan dinamis.

Perbedaan dari sisi mana manusia melihat tidak sepatutnya kemudian bersitegang saling memaksakan kehendak bahwa pandangan merekalah yang benar. Apakah memandang satu sisi mata uang membuat anda bisa memandang sisi lain dari mata uang itu? Kita tidak bisa memandang dua sisi secara bersamaan, kita hanya bisa melihat apa yang ada didepan kita. Hanya Allah SWT yang mampu melakukan itu.

Setelah mengalami berbagai konfrontasi baik secara langsung maupun tidak langsung, tersamar dan yang nyata, aku menyadari bahwa pakaian kebesaran itu adalah bentuk nyata dari perlindungan Allah terhadap wanita Islam. Perlindungan dari pandangan yang sia-sia yang secara sadar atau tidak dapat memberikan dampak buruk bagi wanita itu sendiri maupun bagi orang-orang disekitarnya. Dampak itu bisa secara langsung berupa fitnah dan mengundang orang untuk membicarakan tentangnya maupun dampak yang secara terus menerus berakumulasi menjadikan karakter manusia-manusia dengan degradasi moral yang kian menurun, titik kritisnya terjadi pelecehan seksual dan beragam penganiayaan yang berobjek wanita.

Jilbab mampu meredam keliaran seperti itu. Jilbab meneduhkan dan mendamaikan gejolak hati dan imajinasi manusia yang tak terbatas ruang dan waktu.
Jilbab mengagungkan derajat wanita sedemikian tinggi, sampai-sampai hanya suamilah yang berhak melihat kecantikan dan keelokan seorang wanita.

Allah melindungi wanita serapat mungkin dari celah-celah yang menyusupkan kerusakan moral bagi wanita itu sendiri dan orang-orang disekitarnya.

Semua wanita diciptakan indah dan cantik di mata setiap laki-laki. Tanyalah pada setiap laki-laki, jika mereka mengatakan ya, maka ia seharusnya mengerti bahwa jilbab itu adalah pakaian paling indah untuk wanita. Jika ia laki-laki yang mencintai Allah sedemikian dalam, maka ia sungguh mengerti bahwa Allah sangat menyayangi wanita, lebih senang menciptakan wanita, menjadikan wanita sebagai perhiasan surga dan memberikan pakaian kebesaran untuk mereka. Subhanallah… (alderosa)
posted by rezki @ 7:13 AM   0 comments
Jangan Takut Bilang Cinta
Publikasi: 17/05/2002 09:08 WIB
eramuslim - Tatkala usia terus merangkak naik sementara calon suami tak kunjung datang, segera keresahan mulai melanda. Pada masa-masa yang terbilang cukup rawan ini seringkali tanpa disadari, ada perilaku-perilaku yang mestinya tak layak dilakukan oleh seorang muslimah yang 'kadung' dijadikan teladan dilingkungannya. Ada muslimah yang menjadi sangat sensitif terhadap acara-acara pernikahan ataupun wacana-wacana seputar jodoh dan pernikahan. Atau bersikap seolah tak ingin segera menikah dengan berbagai alasan seperti karir, studi maupun ingin terlebih dulu membahagiakan orang tua. Padahal, hal itu cuma sebagai pelampiasan perasaan lelah menanti jodoh.
Sebaliknya, ada juga muslimah yang cenderung bersikap over acting. terlebih bila sedang menghadiri acara-acara yang juga dihadiri lawan jenisnya. Biasanya, ia akan melakukan berbagai hal agar “terlihat”, berkomentar hal-hal yang tidak perlu yang gunanya cuma untuk menarik perhatian, atau aktif berselidik jika mendengar ada laki-laki shaleh yang siap menikah. Seperti halnya wanita dimata laki-laki, kajian dengan tema “lelaki” pun menjadi satu wacana favorit yang tak kunjung usai dibicarakan dalam komunitas muslimah.
Haruskah terus menerus bersikap membohongi diri seperti contoh pertama diatas. Betapa lelahnya kita ketika harus berbuat seperti itu sementara seolah tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu dan berharap semoga Allah segera mendatangkan pilihan-Nya. Atau masihkah tidak merasa malu untuk menghinakan diri dengan aksi over acting dan 'caper'.
Menurut Fauzil Adhim, banyaknya muslimah yang belum menikah di usianya yang sudah cukup rawan bukannya tidak siap, tetapi karena mereka tidak pernah mempersiapkan diri. Kesiapan disini, termasuk di dalamnya adalah kesiapan untuk menerima calon yang tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan sebenarnya, meski jika ditilik kembali sesungguhnya lelaki tersebut sudah memiliki persyaratan yang 'sedikit' lebih dibanding lelaki biasa. Misalnya, setidaknya sholatnya benar, akhlaqnya baik, tidak berbuat syirik dan pergaulannya tidak jauh dari orang-orang shaleh. Artinya, lanjut Fauzil, tidak usah mematok kriteria terlalu tinggi. Walaupun sebenarnya, sah-sah saja untuk melakukannya.
Pada keadaan tertentu, seringkali para muslimah seperti tidak berdaya mengatasi kelelahannya mencari -menunggu- jodoh. Padahal, ada satu hal yang boleh dan sah saja untuk dilakukan oleh seorang muslimah, yakni menawarkan diri untuk dipinang. Hanya saja, selain masih banyak yang malu-malu membicarakannya, banyak pula yang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang tabu, karena tidak pernah dicontohkan oleh para orang tua kita. Asalkan pada lelaki yang baik-baik, dalam pandangan Islam sah-sah saja wanita menawarkan diri untuk dipinang.
Senada dengan Fauzil Adhim, Ustadz Ihsan Tanjung dalam salah satu rubrik konsultasi keluarga pernah mengatakan, seorang muslimah sebaiknya mengungkapkan perasaannya -keinginannya untuk dilamar- kepada seorang lelaki shaleh yang menjadi pilihannya, ketimbang dia lebih mungkin terkena dosa zina hati karena terus menerus mengharapkan si lelaki tanpa kejelasan atau kepastian.
Hanya saja, yang mungkin perlu diperhatikan adalah seberapa tinggi daya tawar yang dimiliki oleh para muslimah itu ketika dia harus mengungkapkan perasaannya. Pertanyaan yang sering muncul adalah "seberapa pantas dirinya" saat meminta si lelaki untuk melamar dan menikahinya. Untuk hal ini, sepantasnya bukan kata-kata terlontar dari mulut untuk mengkhabarkan kepantasan diri. Namun, dengan mempertinggi kualitas keshalehahan tanpa mengagungkan kecantikan wajah, mengkedepankan akhlaq yang baik sebagai pakaian sehari-harinya disamping juga ia perlu membenahi penampilannya untuk sekedar meningkatkan kepercayaan diri, dan menjaga mata pandangannya untuk selalu bercermin kepada hati, karena disanalah cinta dapat berkembang.
Bagi mereka, Kepentingan menghaluskan wajah tidak mengalahkan kepentingannya untuk menghaluskan jiwanya, karena kecantikan yang murni justru terpancar dari jiwa yang cantik (inner beauty). Kecantikan seperti inilah yang senantiasa tumbuh sepanjang waktu. Jika hal-hal itu sudah dipersiapkan sebaik mungkin dan terpatri menjadi hiasan diri, maka melangkahlah untuk menjemput impian. Namun demikian, perlu juga rasanya untuk melatih menata hati dan berjiwa besar jika terpaksa harus bertepuk sebelah tangan atau menerima kenyataan diluar harapan. Wallahu a'lam bishshowaab (Bayu Gautama)
posted by rezki @ 7:12 AM   0 comments
Jawaban dari Istikharah-ku
Publikasi: 29/04/2004 05:22 WIB

eramuslim - Awalnya kupikir ini tentang memilih. Karena mereka, insya Allah, adalah ikhwan-ikhwan yang shalih. Aku mengamati perubahan mereka dan, subhanallah, mereka telah menjadi muslim yang lebih baik dari sebelumnya. Dan aku mencintai mereka karena Allah.

Seorang dari mereka menaruh harapannya padaku. Ia ingin aku menjadi calon penghuni surga bersamanya menjadi istrinya. Hhh, akhirnya kata-kata indah yang selalu kutunggu itu terdengar juga... dari sahabatku. Sahabat terbaikku, yang sangat mengerti diriku dan akupun memahami dirinya. Dia seorang ikhwan yang baik, yang membuatku sempat berfikir bila suatu hari dia melamarku maka aku tak akan punya alasan apapun untuk menolaknya. Karena begitu baiknya dia.

Namun pemikiran itu berubah saat seorang ikhwan yang lain datang ke dalam kehidupanku. Dialah yang mengirimkan pesan-pesan singkat dan panggilan-panggilan tak terjawab. Seseorang yang tak pernah terlintas di benakku sedikitpun, namun akhirnya mengisi ruang khusus di hatiku.

Ia tak pernah memberi keputusan ataupun sebuah janji. Namun setiap kata darinya menyiratkan bahwa ia cenderung padaku. Wallahu'alam.

Dia seorang yang sopan, yang sangat menghormatiku. Kebaikan akhlak serta keelokan parasnya membuatku berfikir bukanlah wanita seperti aku yang pantas baginya. Dia bagaikan seorang pangeran. Sikapnya yang sulit kutebak sungguh membuatku merasa bahwa aku hanyalah teman biasa baginya.

Aku menjalin persahabatan dengan keduanya, tanpa sepengetahuan masing-masing dari mereka. Karena mereka pun bersahabat dekat.

Banyak ilmu yang kudapat dari mereka. Merekalah tempat aku bertanya dan meminta nasehat, begitu pula aku bagi mereka.

Menurutku persahabatan ini biasa saja, tidak melewati batas norma. Semuanya tentang dakwah. Namun aku merasa hubungan ini tidak bersih. Karena tidak ada persahabatan yang tidak melibatkan hati. Dan aku telah menzhalimi diriku sendiri.

Aku ingin melepaskan diri dari mereka agar aku bisa berpikir jernih dan hatiku menjadi bersih. Aku memang ingin menikah. Tapi tidak dalam situasi seperti ini. Aku berpikir bahwa aku harus memilih salah satu dari mereka. Namun aku hanya menipu diriku sendiri.

Setelah shalat istikharah kudirikan dengan doa agar Allah memberiku jalan yang terbaik, kupikir aku telah mendapatkan jawabannya. Karena setiap hal yang aku lakukan selalu tertuju padanya, sang pangeran.

Sungguh aku telah memperdaya akalku dan hatiku telah lalai menempatkanNya.

Pinangan sahabatku tidak kuterima. Walaupun bisa kubayangkan masa depanku akan cerah bersamanya. Ia menerima keputusanku dan tersadar bahwa ia telah menyia-nyiakan waktunya memikirkan aku. Dan pada saat yang sama, sang pangeran pun menyatakan keinginannya untuk melepaskan diri dariku. Ia pun tersadar telah menyia-nyiakan waktunya untukku.

Yah, jalan itu masih panjang... dan mereka pun memilih mencintai Sang Kekasih Sejati dari pada diriku.

Subhanallah, bagaimana aku tidak semakin mencintai mereka. Dan jelaslah, bahwa mereka berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku.

Berat bagiku menghadapi kenyataan bahwa aku telah kehilangan sahabat-sahabat terbaikku. Namun aku bersyukur mereka meninggalkan aku demi Surga yang siap menerima orang-orang yang kembali ke jalanNya.

Dan ke sanalah pula aku akan menuju. Inilah jawaban istikharahku.

Kembali pada Allah, yang akan selalu ada untukku. Yang tak akan pernah meninggalkanku. Yang selalu mengetahui kebutuhanku dan menyediakannya. Yang selalu mendengar keinginanku dan mengabulkannya. Yang selalu mendengar keluh kesahku dan membantuku mengatasinya. Yang selalu cemburu bila aku melupakannya walau sekejap mata. Yah, Dialah Sang Kekasih Sejati yang kusadari cintaNya meliputi seluruh alam untukku.

Tentang jodoh. aku tak akan memusingkannya lagi. Seperti halnya takdir lahir dan takdir mati. Tak akan mundur atau maju sedetikpun. Aku yakin seseorang di luar sana telah diciptakan Allah khusus untukku. Bukankah manusia diciptakan berpasang-pasangan.

Mungkin dia adalah salah satu dari mereka, mungkin juga bukan. Bila mereka bagiku adalah ikhwan yang baik namun tak satupun dari mereka Allah izinkan untuk menikahiku, maka aku yakin Allah telah menyiapkan ikhwan yang jauh lebih baik dari mereka untukku. Karena aku tahu Allah tak akan pernah mengecewakanku.

Dan kudoakan semoga mereka dikaruniai istri yang shalihah yang jauh lebih baik dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya. Karena Allah tak akan pernah mengecewakan hamba-hambaNya.


Haya Khadijah
“Ya Allah aku memohon kepadaMu kecintaan kepadaMu, dan cinta kepada orang-orang yang mencintaiMu, juga kepada amal perbuatan yang akan mendekatkan diriku untuk mencintaiMu.”

posted by rezki @ 7:08 AM   0 comments
Ingin mengerti wanita? baca ini!
When a GIRL is quiet,
Millions of things are running in her mind.
When a GIRL is not arguing,
She is thinking deeply.
When a GIRL looks at u with eyes full ofquestions,
She is wondering how long you will bearound.
When a GIRL answers "i'm fine" after afew seconds,
She is not at all fine.
When a GIRL stares at you,
She is wondering why you are lying.
When a GIRL lays on your chest,
She is wishing for you to be hers forever.
When a GIRL calls you everyday,
She is seeking for your attention.
When a GIRL wants to see you everyday,
She wants to be pampered.
When a GIRL sms's u everyday,
She wants you to reply at least once.
When a GIRL says I love you,
She means it.
When a GIRL says that she can't live without you,
She has made up her mind that you are her future.
When a GIRL says "i miss you",
No one in this world can miss you more than that
posted by rezki @ 7:07 AM   0 comments
Titik Kemuliaan Ibu Rumah Tangga


Publikasi :
17-03-2004

SESAAT menjelang bunuh diri, aktris kenamaan
Hollywood, Marilyn Monroe, menulis sepucuk surat untuk kaum wanita seluruh dunia. Bintang iklan yang juga supermodel paling populer itu menyampaikan sebuah penyesalannya menjalani kehidupan di dunia ini. Salah satu kutipan dalam suratnya tersebut sebagai berikut : "Waspadailah popularitas wahai wanita. Waspadailah setiap kegemerlapan yang menipumu. Saya adalah wanita termalang di muka bumi ini, sebab saya tidak bisa menjadi seorang ibu. Sesungguhnya wanita itu seharusnya menjadi penghuni rumah utama. Kehidupan berumah tangga dan berkeluarga secara mulia di atas segalanya. Sesungguhnya kebahagiaan wanita yang hakiki adalah dalam kehidupan rumah tangga yang mulia dan suci, bahkan kehidupan berumah tangga adalah simbol kebahagiaan wanita dan manusiawi."

Marilyn Monroe tak sendirian. Kini, banyak kaum perempuan barat mengikuti penyesalan Marilyn Monroe. Penyesalan ini lahir dari banyak hal yang telah mereka lakukan di luar fitrah mereka. Mereka menyesal atas kesibukannya di luar rumah. Karena kesibukan mereka di luar rumah, keluarga mereka menjadi rentan dihinggapi berbagai masalah.

Penyelewengan, perselingkuhan suami istri, adalah masalah dominan yang kerap mengunjungi mereka. Karenanya, kegoncangan kehidupan rumah tangga, penyelewengan pendidikan anak yang menyebabkan mereka terlantar dan sengsara menjadi pelengkap penyesalan mereka. Tentu, secara fitrah, tak ada seorang wanita (ibu) yang tak menangis hatinya saat melihat anak-anaknya memiliki moral yang rusak, bebas berzina, hamil di luar nikah, aborsi, dan lain-lain. Tapi, inilah yang terjadi di barat sana.

Kaum wanita yang hidup dalam liberalisme barat mulai menyadari bahwa persamaan, kesetaraan, dan kebebasan yang didengungkan banyak kaumnya di negeri mereka, sebetulnya telah merampas kebahagiaan dan fitrah mereka sendiri. Mahmud Mahdi Al Istambuli menyampaikan kabar kesadaran mereka itu sebagai berikut : "Mereka baru-baru ini mulai mengajukan persamaan dengan wanita Muslimah, sesudah mereka tahu apa tujuan di balik semboyan-semboyan dan slogan-slogan bohong itu. Wanita-wanita barat rindu mendapatkan kehidupan sebagaimana dialami wanita di negeri Islam. Mereka menuntut persamaan dengan kehidupan para Muslimah itu."

***

MONROE berharap menjadi seorang ibu yang baik. Bahkan, ia menyatakan sendiri bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita adalah ketika ia mampu menjadi ibu, yang berkiprah total dalam kehidupan rumah tangga dan keluarganya. Berkhidmat dan taat sepenuhnya kepada suami, melahirkan anak, mendidiknya, membesarkannya, menjadikan mereka generasi yang taat kepada orangtua, dan generasi penerus perjuangan yang akan mampu mewujudkan peradaban mulia.

Tentu, Monroe dan banyak kaum wanita yang kemudian menyadari kekeliruannya selama ini, melihat sebuah kemuliaan dalam status itu. Dan, secara tidak langsung, ia menyanggah bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita ada dalam gemerlapnya harta, tingginya kedudukan, pesatnya karier, dan lain-lain.

Sesungguhnya, yang Monroe lihat adalah sebuah kebenaran. Kebenaran yang selama ini diajarkan Islam. Ajaran yang menempatkan wanita, terutama ibu, dalam posisi yang sangat mulia.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei mengatakan, "Anda yang beraktivitas di luar rumah, baik Anda sebagai dokter, dosen di perguruan tinggi, atau profesi-profesi akademis lainnya yang pada tempatnya tentu relevan, tetap harus memberikan kiprahnya di dalam rumah. Masalah keibuan, status sebagai istri, rumah dan rumah tangga, semuanya merupakan hal amat fundamental dan vital. Anda bukanlah wanita yang sempurna jika Anda tidak menangani urusan di dalam rumah. Rasa kasih sayang dalam rumah tangga memerlukan satu poros utama, dan itu ialah wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna."

Dr. Mien Uno, salah seorang tokoh perempuan negeri ini mengungkapkan hal senada. "Saya menganggap bahwa ibu rumah tangga adalah karir yang sangat terhormat. Akan tetapi, banyak masyarakat kita yang berpendapat bahwa status ibu rumah tangga bukanlah karir karena tidak bergerak dalam lingkup publik. Saya tidak mengerti yang dimaksudkan dengan lingkup publik. Bagaimanapun, menurut pendapat saya, justru ibu rumah tangga adalah posisi yang sangat terhormat karena dia melingkupi faktor-faktor sosial dengan keluarga, dengan masyarakat. Dia peletak dasar agama, kemudian sebagai seorang pendidik yang baik. Karenanya, dia berkarir sebagai ibu rumah tangga."

Sebuah puisi dari Chages, Challenges and Choices : Women in Develompent in Papua New Guinea, mungkin menjadi daftar lanjutan layaknya posisi ibu rumah tangga mendapat tempat terhormat dan mulia. Berikut bait-bait puisi yang dimaksud :
Istriku Yang Tidak Bekerja
Suatu ketika
Siapa yang mengerik sagu?
Siapa merawat ternak itu?
Menjadi tumbuh dan menjual makanannya
Hingga keluarga bertahan
Siapa menimba air di sumur?
Merawat dan menyayang anak-anak itu?
Merawat yang sakit?
Yang pekerjaannya menghabiskan waktu
Yang bagi lelaki untuk minum kopi, merokok, berpolitik dengan temannya?
Siapa hatinya tercurah bagi anak-anak?
Yang perjuangannya
Tak terlihat
Tak terdengar
Tak dihargai
Tak terbantu
Membantu pembangunan?
Siapa peduli untuk bilang
Benarkah Istriku tidak bekerja?

Keterhormatan profesi ibu rumah tangga tentu tidak berhenti di titik itu. Keterhormatan itu akan semakin lengkap manakala seorang ibu rumah tangga mampu mewujudkan tiga struktur rumah tangga, seperti yang diungkapkan Syeikh Muhammad Al-Ghazali, yaitu sakinah, mawaddah dan rahmah.

Menurut Al Ghazali, yang dimaksud sakinah adalah hendaknya seorang ibu rumah tangga harus berpuas hati dengan pasangannya, demikian juga sebaliknya. Mereka harus menanamkan kesetiaan dalam kehidupannya. Seorang ibu rumah tangga sepatutnya tahu kesenangan suami. Menyediakan segala keperluan yang disukainya terlebih dahulu, sebelum meminta sesuatu darinya. Sementara mawaddah, berarti seorang ibu rumah tangga harus berupaya menumbuhkan rasa suka dan duka bersama keluarganya. Dan rahmah, berarti seorang ibu rumah tangga harus senantiasa mendasarkan setiap perilaku dan aktivitasnya di dalam rumah kepada akhlak yang mulia, serta tahu bersyukur atas nikmat yang diperoleh.

Namun demikian, menjadi ibu rumah tangga yang mendapat kehormatan dan kemuliaan memerlukan kelayakan yang cukup. Wanita yang berhati batu, tidak pandai menaati suami, sering menuntut hak dan mengada-adakan masalah, tetapi gagal menunaikan tanggungjawab, tidak layak mendapat tempat terhormat dan mulia itu. Apalagi ia tidak mampu mewujudkan kehormatan anak-anaknya yang bakal menyambung kehidupan rumah tangga dan mewujudkan peradaban mulia. Kini, dengan catatan daftar kehormatan ibu rumah tangga, masih adakah yang menyebut bahwa ibu rumah tangga sebagai profesi terhina? Wallahua'lam. (Syam/MQ)[MQMedia.com]

posted by rezki @ 7:05 AM   0 comments
Ibu Bagi Ayahnya
Publikasi: 01/12/2004 08:25 WIB

eramuslim - Ia adalah bungsu dari empat perempuan bersaudara. Namun, namanya tercatat harum dalam sejarah mengalahkan tiga nama kakaknya. Dilahirkan sekitar lima tahun sebelum ayahnya menerima wahyu pertama.
Kelahirannya dirancang Allah untuk mengambil setting dan momentum besar dan bersejarah yang mengaruniai julukan untuk ayahnya dengan "Al-Amin". Peristiwa peletakan hajar aswad setelah Ka'bah dibangun kembali oleh kaumnya.
Ketiga saudaranya pun pelahan meninggalkan rumah karena telah dipersunting oleh para sepupunya yang kaya dan memiliki kedudukan terhormat di hadapan para pembesar Quraisy. Meski kemudian bercerai karena kakak-kakaknya sangat mencintai kemurnian akidah dan berpisah dengan kematian suaminya.
Ia tumbuh dalam kasih sayang Ibunya yang sangat dewasa, lembut dan penuh pengertian. Ia tumbuh bersama cinta dan kesahajaan.
Ia tumbuh bersama perjuangan ayahnya. Ia melihat langsung bagaimana ayahnya yang dipercaya kaumnya ternyata disakiti dan dianiaya. Dengan mata kepalanya ia menyaksikan saat ayahnya ditarik-tarik rida'nya saat beribadah di depan Ka'bah. Ayahnya yang sabar dengan perjuangan kebenaran ini. Hingga tangan Abu Bakar terulur menyapanya dan mengusir kezhaliman itu. "Apakah kalian menyakiti laki-laki ini hanya karena ia menyembah Allah?" Abu Bakar membela ayahnya. Kelak laki-laki ini menjadi sahabat dekat ayahnya. Bahkan sahabat terdekat yang disayangi dan dicintai ayahnya.
Dua nuansa pembinaan membuatnya menjadi perempuan yang bukan sembarang perempuan. Nuansa pembinaan yang sarat dengan cinta dan kelembutan, kesahajaan serta selalu penuh dengan perjuangan.
Bahkan saat ibunya meninggal dunia, pada tahun ke sepuluh dari kenabian. Dengan serta merta ia pun menjadi dewasa di usia mudanya. Saat ayahnya kehilangan istri juga paman hanya dalam satu bulan berselang. Ia pun menjelma sebagai "ibu" bagi ayahnya. Ia mendukung penuh perjuangan ayahnya. Dalam tiga tahun ia mewakili peran ibunya meski tentu tak semua peran dapat diwakilinya. Hingga saat berhijrah dan ayahnya pun mendapatkan pengganti ibunya. Perempuan muda yang cerdas yang menjadi pendamping ayahnya, anak dari sahabat terdekat ayahnya, Aisyah. Perempuan itu terpaut sekitar 8 atau 9 tahun lebih muda darinya.
Sungguh sejarah pun mencatat masing-masing mereka. Dua perempuan muda ini adalah perempuan terdekat Rasulullah Saw. setelah seorang perempuan yang sangat dewasa yang sangat berarti bagi perjuangan dan hidup beliau.
Kembali ke perempuan yang sedang kita bicarakan. Ia adalah Fathimah Az-Zahra.
Ketika penganiayaan terhadap ayahnya juga kaum muslimin semakin meningkat terutama dalam tiga tahun setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib. Saat perintah berhijrah turun sebagai jalan menuju kemenangan. Ia turut membantu persiapan ayahnya. Dan ia pun tetap tinggal bersama kakaknya, Ummu Kulsum.
Hingga datanglah utusan Rasul Saw yang menjemput ia dan kakaknya, menyusul ayah mereka di Madinah. Perjalanannya ke Madinah tidaklah aman dan berjalan mulus. Ia menjumpai halangan dan rintangan yang cukup berat. Sebagaimana kaum Quraisy memburu, ia pun tak lepas dari bidikan kekejian ini.
Al-Huwairits bin Naqidz, seorang bejat mengejar mereka. Dia adalah diantara orang yang menyakiti ayahnya ketika di Makkah. Al-Huwairits mendapatkannya di perjalanan ke Madinah bersama kakaknya. Ia dan kakaknya terjerembab dari atas tunggangan. Jatuh di atas padang pasir yang garang dan panas. Ia dihinakan dan disakiti oleh kebejatan al-Huwairits yang tertawa-tawa mengejek bersama kaumnya. Hingga setelah puas ia pun meninggalkan dua bersaudara itu.
Sungguh ketika ia sampai ke Madinah bersama kakaknya dalam kondisi yang menyedihkan. Tubuh yang lemah dan terlihat bekas penganiayaan. Saat itu, tiada seorang pun penduduk Madinah yang tidak melaknat perbuatan al-Huwairits. Maka sangat pantas ia mendapat balasan setimpal atas kejahatannya menyakiti perempuan mulia ini. Kelak pada tahun ke delapan hijriyah, al-Huwairits menjadi salah satu diantara nama-nama yang hendak dipenggal dimana pun ia berada dan bersembunyi. Dan tugas itu dilakukan oleh suaminya, Ali bin Abi Thalib.
Saat rumah tangga Rasul Saw kedatangan perempuan baru yang menggantikan perannya, ia pun tetap setia mendampingi ayahnya. Ia bahkan tidak sekali pun membayangkan seperti ketiga kakaknya; mendapatkan pasangan hidup yang kaya dan terpandang. Entah itu kakak sulungnya, Zainab. Atau Ruqayyah dan Ummu Kulsum yang dipersunting saudagar kaya dan terpandang sekelas Usman bin Affan.
Ia qanaah dengan kesahajaan yang dibina ibu kandungnya, perempuan agung yang dikenal sejarah kemanusiaan, Khadijah.
Namun, tak dinafikan perempuan muda yang shalihah ini mendambakan seseorang. Seorang laki-laki yang dengannya ia berharap ridha Allah. Yang dengannya ia bisa berbuat lebih banyak sebagaimana ia melayani ayahnya. Ya laki-laki itu tak jauh darinya.
Ia adalah anak paman ayahnya, Ali bin Abi Thalib. Hanya saja ia tak berani mengatakannya. Bagaimana pun keluarga Ali berjasa bagi ayahnya. Mereka yang mengasuh ayahnya sepeninggal neneknya. Di rumah Ali, ayahnya tumbuh dan dilindungi serta disayangi. Meski, Abu Thalib, ayah Ali tidaklah berada dalam barisan dakwah ayahnya, Muhammad saw. Disamping itu Ali adalah laki-laki kecil pertama yang beriman pada ayahnya. Ali adalah laki-laki yang cerdas yang dijuluki ayahnya dengan "pintu ilmu". Ia mengangankan tapi tak berani mengatakan. Ia mengetahui posisi Ali yang agung.
Ali pun merasa demikian. Fatimah adalah anak dari gurunya. Anak seorang pemimpin dan nabi umat ini. Apakah dirinya layak mendampingi perempuan mulia ini? Apalagi setelah dua sahabat agung, Abu Bakar dan Umar mundur dengan pinangannya. Rasul Saw, belum berkenan dengan beliau berdua. Ada lelaki lain yang ditunggu putrinya.
Sahabat-sahabat Ali pun memompa kepercayaan Ali. Hingga ia berani menghadap Rasulullah saw, meski dengan lidah yang sangat kelu untuk menyebutkan hasrat sesungguhnya dan maksud kedatangannya waktu itu.
Rasulullah Saw. menangkap hal lain dengan kedatangan pemuda yang santun ini. Ada hal yang sangat penting yang akan disampaikannya sehingga pemuda ini tak sanggup mengatakannya. Maka Rasul pun mendekatinya dan menanyakan dengan pelan dan kasih sayang, "Gerangan apa maksud kedatangan putra Abu Thalib?"
Dengan mata terpejam dan suara yang lemah, pemuda itu pun menyahut, "Aku mengingat Fatimah, putri Rasulullah".
Rasul pun tersenyum seraya mengabarkan berita gembira yang membuat hati pemuda itu berbunga-bunga, "Ahlan wa marhaban (selamat datang)" dalam riwayat lain disebutkan "Dia untukmu, Ali!"
Dan perempuan mulia itu pun akhirnya bersanding dengan pemuda agung ini. Pemuda agung yang juga sarat dengan kesahajaan. Ia pun sempat kebingungan, dengan apa ia akan menikah. Ia segera teringat akan baju besinya. Ustman bin Affan membelinya seharga 470 dirham. Sebagian diserahkan Rasul, sebagian diserahkan Bilal untuk membeli wewangian sisanya diberikan Ummu Salamah untuk membeli peralatan pengantin dan segala kebutuhannya.
Fatimah muda segera berpindah rumah dari keluarga ayahnya menuju rumah tangga yang dibangunnya bersama Ali. Ali tidaklah sekaya Ustman atau Abdurrahman. Maka, penempaan kesederhanaan ibunya lah yang menjadikannya tetap sebagai perempuan tangguh, tabah dan bersahaja serta mencintai fakir miskin.
Dia yang putri seorang pemimpin dan nabi umat ini tidak dengan manja menikmati fasilitas. Justru sarat dengan kesederhanaan. Hidupnya penuh pengorbanan dan perjuangan. Kedua tangannya pun kasar sebagai tanda bahwa ia tabah dengan hidupnya. Tak ada pembantu di rumahnya.
Dan nasab, kata ayahnya, tak sanggup menyelamatkan seseorang dari murka Allah. Maka ayahnya memerintahkan padanya untuk banyak beramal baik. Dan jika ia menyeleweng maka murka ayahnya akan didapatinya lebih dari yang lainnya. Jika Fatimah mencuri maka tangannya pun tak dapat disembunyikan dari kemurkaan ayahnya.
Sungguh perempuan mulia ini patut dan laik dimuliakan sejarah. Dari rahimnya yang suci tersambung keturunan Rasulullah. Dari kesabaran dan kesetiaannya bersama Ali, ia memperoleh kebahagiaan dan menuai cinta yang sangat manis. Cinta yang bermuara pada kerelaan Allah dan Rasul-Nya. Maka sangat wajar bila ayahnya sangat dalam mencintainya, "Fatimah adalah bagian diriku, dan diriku bagian darinya". Siapa yang menyakitinya sama dengan menyakiti ayahnya. Putri bungsu pemimpin umat ini sangat menyayangi dan mencintai ayahnya.
Ia juga sangat pemaaf, dengan segala kebesaran hatinya ia memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan suaminya dalam kasus putri musuh Allah, putri Amru bin Hisyam, yang hendak dinikahi suaminya. Bagaimana mungkin suaminya menyatukan dalam satu rumah dua perempuan, putri Rasulullah dan putri musuhnya.
Ia juga yang dengan tekun berguru pada suaminya yang "pintu ilmu" itu.
Ia juga yang dengan lembut menyemaikan cinta di hati dua buah hatinya, Hasan dan Husain, dua cucu kesayangan ayahnya.
Ia juga yang mendukung perjuangan suaminya serta menopang semangat suaminya berjuang bersama ayahnya menegakkan kalimat Allah dan membela agama-Nya, menghadai musuh-musuh ayahnya yang pernah menyakiti keluarganya juga kaum muslimin.
Ia juga yang dengan rajin dan tekun mendekatkan diri dengan Tuhannya memohon dukungan perjuangan ayah dan suaminya.
Hingga datang saat perpisahan dengan kekasihnya, ayahnya yang sangat dicintainya. Sang ayah yang sangat dekat dengannya kembali ke pangkuan Allah. Ia pun bersedih dan tak lama berselang enam bulan berikutnya ia pun menyusul kekasihnya, ayahnya. Menghadap Tuhannya dengan segala pengorbanan dan cinta terhadap Allah dan Rasul-Nya.
Kaum muslimin kembali dilanda kedukaan yang dalam setelah menguburkan jasad putri terakhir Rasulullah saw. Ali pun sangat merasa kehilangan. Ia menangis saat menguburnya di senja hari. Ia kuatkan hati, namun air matanya tak sanggup menyembunyikan kesedihan dari perpisahan ini. Ia melambaikan perpisahan terakhir kemudian kembali ke rumahnya yang sangat terasa sepi sepeninggal Az-Zahra ini.
Ali segera kembali menemui kedua buah hatinya, peninggalan berharga perempuan mulia yang pernah dikenalnya. Berbahagialah Ali yang menjadi pendamping perempuan agung ini sekaligus meraih kehormatan menjadi penerus keturunan Rasulullah Saw. Dan ia harus merelakannya menemui kekasihnya. Perempuan yang pernah menjelma menjadi ibu bagi ayahnya. Fathimah Az-Zahra. RadhialLahu anhum jami'an.
posted by rezki @ 7:05 AM   0 comments
Hadiah Untuk Kaum Hawa

Publikasi : 17-03-2004

KotaSantri.com : Hawa,
Sadarkah engkau sebelum datangnya sinar Islam, kita dizalimi, hak kita dicerobohi, kita ditanam hidup-hidup, tiada penghormatan walau secebis oleh kaum adam, tiada nilai dimata adam, kita hanya sebagai alat untuk memuaskan hawa nafsu mereka. Tapi kini bila rahmat Islam menyelubungi alam, bila sinar Islam berkembang, derajat kita diangkat, maruah kita terpelihara, kita dihargai dan dipandang mulia, dan mendapat tempat di sisi Allah sehingga tiada sebaik-baik hiasan di dunia ini melainkan wanita sholehah.

Wahai Hawa,
Kenapa engkau tak menghargai nikmat iman dan Islam itu?
Kenapa mesti engkau kaku dalam mentaati ajaranNya, kenapa masih segan mengamalkan isi kandungannya dan kenapa masih was-was dalam mematuhi perintahNya?

Wahai Hawa,
Tangan yang mengoncang buaian boleh mengoncang dunia, sadarlah hawa kau dapat mengoncang dunia dengan melahirkan manusia yang hebat yakni yang sholeh dan sholehah, kau bisa menggegar dunia dengan menjadi isteri yang taat serta memberi dorongan dan sokongan pada suami yang sejati dalam menegakkan Islam di mata dunia.

Tapi hawa, jangan sesekali kau coba menggoncang keimanan lelaki dengan lembut tuturmu, dengan ayu wajahmu, dengan lengguk tubuhmu. Jangan kau menghentak-hentak kakimu untuk menyatakan kehadiranmu.

Jangan Hawa, jangan sesekali coba menarik perhatian kaum adam yang bukan suamimu. Jangan sesekali mengoda lelaki yang bukan suamimu, karena aku khawatir ia mengundang kemurkaan dan kebencian Allah.

Tetapi memberi kegembiraan pada syaitan karena wanita adalah jala syaitan, alat yang dieksploitasikan oleh syaitan dalam menyesatkan Adam.

Hawa,
Andai engkau masih remaja, jadilah anak yang sholehah buat kedua ibu-bapakmu, andai engkau sudah bersuami jadilah isteri yang meringankan beban suamimu, andai engkau seorang ibu didiklah anakmu sampai ia tak gentar memperjuangkan ad-din Allah.

Hawa,
Andai engkau belum menikah, jangan kau risau akan jodohmu, ingatlah hawa janji Tuhan kita, wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Jangan menggadaikan maruahmu hanya semata-mata karena seorang lelaki, jangan memakai pakaian yang menampakkan sosok tubuhmu hanya untuk menarik perhatian dan memikat kaum lelaki, karena kau bukan memancing hatinya tapi merangsang nafsunya.

Jangan memulakan pertemuan dengan lelaki yang bukan muhrim karena aku khawatir dari mata turun ke hati, dari senyuman membawa ke salam, dari salam cenderung kepada pertemuan dan dari pertemuan... takut lahirnya nafsu kejahatan yang menguasai diri.

Hawa,
Lelaki yang baik tidak melihat paras rupa, lelaki yang soleh tidak memilih wanita melalui keseksiannya, lelaki yang warak tidak menilai wanita melalui keayuaannya, kemanjaannya serta kemampuannya menggoncang iman mereka.
Tetapi hawa, lelaki yang baik akan menilai wanita melalui akhlaknya, peribadinya dan ad-dinnya. Lelaki yang baik tidak menginginkan sebuah pertemuan dengan wanita yang bukan muhrimnya karena dia takut memberi kesempatan pada syaitan untuk mengodanya. Lelaki yang warak juga tak mau bermain cinta sebabnya dia tahu apa tujuan dalam sebuah hubungan antara lelaki dan wanita yakni pernikahan.

Oleh itu Hawa,
Jagalah pandanganmu, jagalah pakaianmu, jagalah akhlakmu, kuatkan pendirianmu. Andai kata ditakdirkan tiada cinta dari Adam untukmu, cukuplah hanya cinta Allah menyinari dan memenuhi jiwamu, biarlah hanya cinta kedua ibu-bapakmu yang memberi kehangatan kebahagiaan buat dirimu, cukuplah sekadar cinta adik-beradik serta keluarga yang akan membahagiakan dirimu.

Hawa,
Cintailah Allah dikala susah dan senang karena kau akan memperolehi cinta dari insan yang juga mencintai Allah.
Cintailah kedua ibu-bapakmu karena kau akan peroleh keridhaan Allah.
Cintailah keluargamu karena tiada cinta selain cinta keluarga.

Hawa,
Ingatanku yang terakhir, biarlah tangan yang menggoncang buaian ini dapat menggoncang dunia dalam mencapai keredhaan Illahi.
Jangan sesekali tangan ini juga yang menggoncang keimanan kaum Adam, karena aku sukar menerimanya dan aku benci mendengarnya.
Suatu saat ada yang harus pergi, suatu saat ada yang akan datang. Mungkin yang pergi tidak akan kembali, dan mungkin yang datang hanya sebentar. (Cahya Rahma Dewi)

posted by rezki @ 6:57 AM   0 comments
I Love U
Berikanlah makna di dlm kehidupan Anda bukan hanya untuk diri Anda sendiri saja melainkan juga untuk membahagiakan sesama manusia di dlm lingkungan kehidupan Anda.
Berikanlah waktu Anda dgn digabung oleh rasa kasih!
Untuk mengetahui nilainya waktu SATU TAHUN
Tanyakanlah kepada mahasiswa yg tidak lulus ujian.
Untuk mengetahui nilainya waktu SATU BULAN
Tanyakanlah kepada Ibu yg melahirkan bayi secara premature.
Untuk mengetahui nilainya waktu SATU MINGGU
Tanyalah kepada redaksi dan editor dari majalah minggguan.
Untuk mengetahui nilainya waktu SATU JAM
Tanyakanlah kepada seorang kekasih yg sedang menunggu kedatangan pacarnya.
Untuk mengetahui nilai waktu SATU MENIT
tanyakanlah kepada orang yg keterlambatan naik kereta api.
Untuk mengetahui nilai waktu SATU DETIK
tanyakanlah kepada seorang yg barusan saja mengalami musibah karena kelalaian dlm sedetik saja.
Yesterday is history, tommorow is mistery, today is a gift! That's why it'scalled the present!Seorang sahabat sama seperti satu permata yg tak ternilai harganya. Seorang kawan bisa membuat kita ceria, membuat kita terhibur. Mereka meminjamkan kupingnya kepada kita pada saat kita membutuhkannya. Mereka bersedia membuka hati maupun perasaannya untuk berbagi suka dan duka dgn kita pada saat kita membutuhkannya.
Peliharalah persahabatan, sebab satu sahabat nilainya ada jauh lebih banyak daripada 10.000 musuh. Maka dari itu janganlah buang waktu yg Anda miliki, janganlah sia2kan waktu yg sedemikian berharganya.
Bagikanlah sebagian dari waktu ygAnda miliki untuk seorang kawan/sobat. Pasti waktu yg Anda berikan tsb akan berbalik kembali seperti juga satu lingkaran walaupun terkadang kitatidak tahu dari mana dan dari siapa datangnya. Mulailah kita awali dgn membagikan waktu kita sejenak dgn memforward artikel ini kepada seorang kawan atau sahabat yg membutuhkannya.
Dgn ucapan I love you!
posted by rezki @ 6:56 AM   0 comments
Haid Membaca Al Quran
Fiqh - Monday, 26 July 2004
Kafemuslimah.com Ali bin Abi Thalib berkata: ”Rasulullah saw membacakan Al Quran kepada kita selagi beliau tidak dalam keadaan junub.” (HR Ahmad, Abu Daud, At Turmudzi, An Nasai dan Ibn Majah). Lebih lanjut Ali ra berkata: “Aku melihat Rasulullah saw mengambil air wudhu seraya membaca Al Qur’an, kemudian bersabda: “Demikian inibagi orang yang tidak junub, adapun orang yang sedang junub maka jangan membawa dan membaca ayat (Al Quran)” (HR Abu Ya’la).Atas dasar dua hadits tersebut, para ahli fiqh dalam Madzab Empat berpendapat bahwa orang junub haram membaca Al Quran. Tetapi mereka berbeda pendapat jika yang dibaca beberapa ayat saja. Menurut madzab Maliki, orang junub boleh membaca Al Quran asalhkan sedikit saja dengan niat membentengi diri, seperti membaca ayat Kursi, surat Al Ikhlas dan Al Mu’awidzatain. Imam Ahmad bin Hambal berpendapat, orang junub boleh membaca satu ayat semisalnya. Imam Abu Hanifah membolehkan orang junub membaca sebagian dari ayat. Menurut madzab Syafi’I, boleh membaca ayat dengan niat dzikir seperti Basmallah, Hamdalah dan Istirja’ (inna illahi…) dan tidak berniat membaca Al Quran. Pendapat dalam madzab Syafi’I ini adalah pendapat yang moderat.Ketentuan-ketentuan hukum (termasuk vaariasinya) bagi orang junub, berlaku juga bagi orang yang berhadats besar lainnya (haid, nifas, jimak dan wiladah). Kedudukan hukum haid sama dengan hukum orang haid sebagaimana hadits: Orang junub dan orang haid tidak boleh membaca sesuatu dari ayat Al Quran.” (HR Ahmad, At Turmudzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Umar).Atas dasar hadits tersebut para ahli fiqh dalam Madzab empat berpendapat bahwa orang haid haram memabca Al Quran. Demikian pula bagi orang yang nifas, wiladah dan jimak. Wallahu’alam.
posted by rezki @ 6:54 AM   0 comments
Pintu Gerbang Fitnah
Publikasi: 22/11/2004 08:01 WIB

Dari Abu Wa’il dari Huzaifah: Umar r.a. bertanya kepada kami, “Siapa yang ingat penjelasan Rasulullah mengenai fitnah” Huzaifah berkata, “Aku mendengar Rasulullah berkata, ‘Fitnah dari seorang manusia adalah karena harta, keluarga, dan tetangganya dapat ditutupi (dicegah) dengan shalatnya, puasanya, dan sedekahnya.” Umar berkata, “Aku tidak bertanya mengenai hal itu, tetapi aku bertanya mengenai fitnah (kekacauan) yang akan menerjang seperti gelombang/ombak di lautan.” Huzaifah menjawab, “(Hal itu tidak membahayakan kepada engkau , hai amirul mukminin!) Antara engkau dengan fitnah tersebut itu ada pintu yang terkunci.” Umar bertanya, “Apakah pintu gerbang itu akan terbuka atau dirusak?” Ia menjawab, “Dirusak.” Umar berkata, “Maka pintu tersebut tak akan tertutup lagi sampai Hari Kebangkitan.” Kami berkata kepada Masruq, “Tanyakanlah pada Huzaifah apakah Umar mengetahui apakah yang disimbolkan dari pintu gerbang itu” Ia (Masruq) bertanya pada Huzaifah dan beliau menjawab, “Beliau (Umar) mengetahuinya seperti seseorang mengetahui bahwa ada malam sebelum pagi.”

posted by rezki @ 6:53 AM   0 comments
Generasi Terbaik
Publikasi: 23/09/2004 10:24 WIB

Dari Imran bin Husain r.a.: Rasulullah bersabda, “Mereka yang terbaik dari pengikutku adalah mereka yang hidup pada jamanku (generasi para sahabat), kemudian mereka yang hidup sesudahnya dan kemudian mereka yang sesudahnya.” Imran menambahkan, “Aku tidak ingat apakah beliau menyebutkan dua atau tiga generasi setelah generasi para sahabat”, kemudian Rasulullah menambahkan, “Akan datang sesudahmu, orang-orang yang memberikan kesaksian tanpa diminta untuk bersaksi, dan mereka adalah orang-orang yang tidak jujur dan tidak dapat dipercaya, dan mereka berjanji namun mengingkari janjinya; dan kegemukan akan terlihat pada diri mereka.”
posted by rezki @ 6:53 AM   0 comments
GELOMBANG itu bernama tsunami
GELOMBANG itu bernama tsunami. Namun, tidak ada cukup kata untuk menampung akibat empasannya pada 26 Desember 2004. Apalagi menjelaskan, mengapa sedemikian menghancurkan? Tentu ada penjelasan ilmiah; tetapi kita menginginkan makna. Sains hanya membawa kita sampai tepi alam bermakna, tetapi tidak mengantar masuk ke dalamnya. Begitu pesan guru saya.Terdamparlah kita pada logika abad pertengahan seraya mendakwa Tuhan. Ia murka oleh ulah sebagian manusia di negeri ini yang sudah sedemikian menghinakan kemanusiaannya sendiri. Agar reda kegentaran, kita mencoba menuai pesan. Bencana adalah panacea, semacam cairan penyembuh luka kemanusiaan. Mudah-mudahan manusia mau berubah. Mudah-mudahan bangsa ini menjadi lebih baik setelah kejahatan sekelompok orang ditebus oleh kematian dan kesengsaraan demikian banyak warga Aceh, Nias, bahkan negara-negara tetangga.Apakah Tuhan demikian kejam? Mengapa orang Aceh yang dihukum? Ada juga keraguan. "Jika tatanan dunia dibentuk oleh kematian, tidakkah lebih baik bagi Tuhan jika kita menolak memercayai-Nya dan berjuang dengan seluruh daya melawan kematian tanpa perlu menatap surga tempat Ia duduk berdiam diri?" Kutipan kalimat terkenal Albert Camus dalam La Peste (1947) dikirim sebagai pesan singkat ke telepon saya, tak lama sesudah penawar duka semacam itu mengalir di media massa.Berabad-abad, filsafat dan teologi bergulat menemukan jawaban bagi indiskriminasi bencana alam, yang menunjukkan bahwa kerentanan manusia tidak selalu berhubungan dengan gender, etnisitas, agama, negara, atau pemilahan apa pun kecuali umur. Anak-anak hampir selalu merupakan korban terbesar bencana, termasuk pada Minggu pagi itu. Ini membuat masalah impersonalitas alam dan divine providence kian sulit dimengerti. Jika peringatan dan hukuman Tuhan merupakan penjelasan bagi tragedi tersebut, bagaimana bisa anak-anak yang tidak berdosa juga terkena? Anak-anak yang belum paham arti bencana menggentarkan itu, tetapi terlalu lemah untuk bisa merengkuh apa pun yang bisa menyelamatkannya.Mereka yang tersentuh oleh ujaran para sufi berujar, hanya bahasa manusia yang dipahami manusia. Memasuki samudra spiritual, kata-kata menjangkau pantainya saja. Dalam bahasa manusia itulah kita meratapi ketiadaan sistem deteksi di wilayah rawan gempa, peringatan dini, dan seterusnya. Dengan bahasa manusia pula kita mensyukuri reaksi cepat masyarakat membantu korban sekaligus meratap. Mengapa selalu perlu tragedi besar untuk membangkitkan perhatian yang lama ditunggu oleh warga Aceh?INI bukan waktu untuk menyesali apa pun berkaitan dengan bencana itu, ujar seorang staf badan bantuan internasional dalam wawancara dengan CNN. "Tak ada waktu untuk itu. Kita perlu bekerja cepat." Tidak seorang pun tidak sepakat.Perkaranya bagi kita, bencana itu bukan hanya menuntut kerja cepat dan efektif untuk mencegah tragedi lanjutan, tetapi juga komitmen jangka panjang. Mulai dari pemulihan fisik manusia dan sarana pendukung hidupnya sampai pemulihan jiwa yang luka. Di antara tugas mahabesar dan berat itu, ada ratusan ribu anak memerlukan perhatian. Bagi kebanyakan anak Aceh yang selamat, ini bukan peristiwa traumatis pertama. Bertahun-tahun mereka menyaksikan dan mengalami kebengisan tindakan manusia. Dalam labirin sukma anak-anak yang tak pernah tertampung oleh kemiskinan bahasa, mungkin kita hanya akan bertemu dengan kelengangan.Di tengah perkara itu, kita sudah lama tahu, haru dan kasihan hanya membawa perubahan sesaat. Bukan kita tidak percaya bahwa kasihan mempunyai nilai tersendiri. Bait pertama De Rerum Natura karya Lucretius yang ditulis lebih dari 2.000 tahun lalu, bagaimanapun, menggelisahkan saya. Ia menggambarkan perasaan lega orang di darat saat menyaksikan badai sedang menggulung orang lain di laut. Rasa lega muncul bukan karena penderitaan orang lain membawa kesenangan di dalam diri kita, melainkan karena kita melihat bahaya menerjang tetapi ternyata kita terbebaskan.Dalam bahasa Aristoteles yang lebih lugas, rasa kasihan muncul saat hal yang kita takutkan menimpa kita, tetapi terjadi pada orang lain. Artinya, kasihan tidak bebas dari kungkungan kepentingan yang berpusat di diri sendiri.Mungkin karena itu ketika Thailand, Malaysia, dan Singapura membatalkan semua perayaan Tahun Baru serta kota Sydney sungguh diam pada pergantian tahun, kepekaan publik kita lenyap dalam tawaran gaduh pesta. Seorang rekan yang kebetulan ada di Jakarta Pusat sengaja ke luar rumah dan menelepon saya untuk memperdengarkan hiruk-pikuk terompet bercampur bunyi petasan di jalanan.Di antara itu, tentu ada ada doa, puisi, mengheningkan cipta, dan penyampaian sumbangan beberapa menit menjelang 1 Januari 2005, tanpa perlu pusing memikirkan gaya hidup yang ditampilkan seraya sumbangan digalang. Tentu pula ada jeda berita atau puisi sedih. Selebihnya adalah riuh pesta dengan para penari latar dan penonton berjoget, acara hiburan, kuis, dan badut-badutan. Metro TV adalah sebuah kekecualian (toh seorang wartawan berdalih memakai argumen pembelaan narsistik: itu karena pemimpin perusahaannya orang Aceh).Harian Kompas (31/12/2004) memuat satu opini yang berjudul Tahun Baru Ini Kita Berkabung (Victor Menayang) dan sebuah esai di halaman pertama, Keadaban Publik (B Herry-Priyono). Tentu pengamatan saya kurang lengkap. Akan tetapi, kisah malam Tahun Baru yang tampil di televisi dan tersiarkan ke pelosok Indonesia serta yang terdengar di pusat ibu kota adalah ingar-bingar yang cukup untuk menjadi cermin keadaban publik yang memang sirna. Itu pula kondisi media kita yang sama sekali tidak mendidik selera dan pembentukan keadaban publik.Orang bukan hanya tidak lagi mampu menyerap duka perkabungan dan ikut merasakan penderitaan orang lain, bahkan tidak paham kesantunan berbelasungkawa.Inilah masalah kita. Kita terpukau tindakan karitatif sesaat, tetapi enggan berjerih payah memikirkan gaya hidup yang kian melenyapkan common sense publik kita. Gaya hidup yang terus direplikasi televisi nasional, industri periklanan, dan gemerlap mal. Kita tenggelam dalam kelupaan bahwa kasihan semata tidak pernah cukup untuk membangkitkan komitmen yang diperlukan agar kesengsaraan berkurang. Memberi uang sepuluh juta untuk dihabiskan dalam waktu setengah jam karena kasihan dan ingin menghibur orang miskin tidak akan mengurangi kemiskinan. Malah menyeret orang miskin tergagap mencecap gaya hidup konsumeristik.Tutuplah pintumu dan matikan lampu sehingga engkau dalam pekat kegelapan dapat merasakan kedalaman penderitaan. Renungan dari catatan beberapa abad lalu itu tidak meminta kita menangis kasihan. Ia meminta kita memikirkan dan memperjuangkan tindakan politis bagi masa depan begitu banyak anak dan korban. Termasuk kesediaan mengurangi banyak kesenangan yang akan dituntut dari kita demi sedikit melegakan sesak kesusahan mereka.Namun, apabila santun berbelasungkawa pun kita tidak bisa, tak ada lagi yang tersisa dalam hidup bersama kita.
posted by rezki @ 6:50 AM   0 comments
Gadis Kecilku yang Tomboi
Publikasi: 02/02/2005 14:58 WIB

eramuslim - Nabila gadis mungil berusia tiga tahun yang sangat lincah. Tak ada lemari atau jendela yang belum ia daki. Tak ada teman laki-laki yang belum pernah ia lawan. Sepanjang hari Nabila bermain dengan anak laki-laki. Main perang-perangan, sepak bola, atau layang-layang? Boleh diadu, gadis kecil ini tidak kalah jago dengan anak laki-laki. Kalau berkelahi, Nabila tidak pernah menangis. Paling-paling cuma meringis kemudian berusaha membalas habis-habisan. Dandanan Nabila pun tidak kalah gagah. Celana pendek dan kaos basket tanpa lengan menjadi seragam hariannya. Mamanya kehabisan cara untuk membujuk Nabila berjilbab dan berbaju muslimah. Kalau Mamanya mengeluhkan tingkah Nabila kepada Papanya, si Papa cuma tertawa sambil mengucek-ucek rambut Nabila yang ikal dan dipotong pendek.

Potret Nabila mungkin mengingatkan kita kepada keponakan kita, anak tetangga, atau justru pada putri kita sendiri. Anak perempuan yang berpotongan tomboy mungkin biasa kita temui. Ada yang menanggapinya biasa-biasa saja seperti Papanya Nabila. Ada yang pusing tujuh keliling seperti Mamanya Nabila. Ada juga yang senang mendandani gadis kecil mereka dengan pakaian anak laki-laki.

Anak tomboi bisa disebabkan oleh beberapa hal. Lingkungan bermain, yang didominasi oleh anak laki-laki. Anak perempuan yang kawan bermainnya didominasi anak laki-laki atau saudara laki-laki biasanya akan cenderung beretingkah lebih kelaki-lakian. Bisa juga orang tua yang sangat mengharapkan lahirnya anak laki-laki. Sehingga, ketika lahir anak perempuan lagi, maka anak ini diperlakukan dan didandani sebagai anak laki-laki.

Banyak orang tua yang perilaku anak yang seolah-olah menyimpang ini dengan cemas. Mereka menganggap anak mereka mengidap pengyimpangan perilaku. Bayangan tingkah tokoh Rohaye yang menggundul kepalanya ala Ronaldo dan si Ongky yang kemayu berkelebat di benak banyak orang tua. Mereka khawatir anaknya kelak tertukar identitas gendernya. Apalgi jika perilaku anak jadi berlarut-larut hingga menjelang usia baligh.

Namun anak yang bereksplorasi menajdi lawan jenis sebenarnya hanya bersifat sementara dan terjadi pada kedua jenis kelamin. Hal ini biasanya menunjukkan pengalaman belajar sebagai proses menuju sosialisasi peran seksual yang sebenarnya. (Maccoby & Jacklin, 1974, Mischel, 1970; Serbin, 1980).

Karena yang merupakan ketidakwajaran adalah hipermaskulinitas hiperfeminitas. Seseorang yang kelewat maskulin akan menunjukkan sifat suka mencari gara-gara untuk berkelahi, perusak, kasar dank eras terhadap orang lain. Ia terus menerus tidak dapat mengendalikan perilaku kasar dan tidak sensitif. (Harrington,1970). Sayangnya penelitian mengenai anak perempuan yang hipermaskulin atau hiperfeminin, sangat jarang.

Adanya pengaruh lingkungan memang membuat anak-anak sekarang tidak seperti dahulu lagi. Zaman sekarang pengaruh kerasnya persaingan dan kompetisi sangat kuat. Perempuan dituntut berkompetisi dengan laki-laki. Bahkan sejak usia yang masih sangat muda. Sehingga anak perempuan meniru perilaku lawan jenisnya untuk bersaing.

Perbedaan antar jenis kelamin juga semakin menipis. Demikian juga perlakuan orang yang menyamaratakan antara laki-laki dan perempuan. Misalnya saja semakin banyak orangtua yang membiarkan anak laki-laki dan perempuannya bermain dengan permainan yang sama. Mereka sama-sama bermain masak-masakan atau pasar-pasaran, juga bermain tembakan-tembakan dan mobil-mobilan.

Memperkenalkan anak dengan permainan dan kegiatan yang dianggap sebagai aktifitas lawan jenisnya boleh-boleh saja. Pembagian bahwa anak laki-laki hanya boleh main mobil-mobilan dan tembak-tembakan dan anak perempuan hanya boleh main masak-masakan dan boneka saja sebenarnya sangat tidak sesuai dengan kenyataan. Anak perempuan boleh-boleh saja menyetir mobil dan memanjat-manjat. Ia tidak hanya harus punya keterampilan dapur dan rumah tangga. Sebaliknya, anak laki-laki pun harus tahu urusan masak-memasak dan mengurus anak. Yang tidak boleh bertukar adalah hal-hal yang bersifat kodrati dan kewajiban. Anak laki-laki tidak boleh berperan sebagai anak perempuan. Contohnya bermain sebagai ibu yang pura-pura hamil dan menyusui. Begitu juga sebaliknya anak perempuan jangan sampai menjiplak habis gaya dan tingkah anak laki-laki. Misalnya, maaf buang air kecil sambil berdiri dan lain-lain.

Jadi kita tidak perlu merasa terlalu resah kepada anak perempuan kita yang tomboi. Selama anak tetap menunjukkan ciri-ciri feminin, tetap menyadari dan mengakuri dirinya sebagai anak perempuan. Jika gaya maskulin anak hanya sekedar pengaruh lingkungan, masih ada waktu untuk mengubahnya. Tentunya harus dilakukan sebelum anak akil baligh.

Beberapa tips yang boleh dicoba untuk anak-anak perempuan yang tomboi:

1. Sebagai orang tua kita harus melakukan instropeksi diri. Apakah perilaku tomboi anak disebabkan oleh perlakuan kita? Misalnya karena berharap memiliki anak laki-laki. Atau perilaku itu didorong oleh sikap orang tua yang menganggap lucu jika anak laki-laki bertingkah dan berpakaian perempuan atau sebaliknya anak perempuan berpakaian dan bertingkah sebagai laki-laki jika demikian, cobalah mengubah perlakukan kita

2. Jangan mencela tau mengkritik, anak akan terluka harga dirinya. Jika ini terjadi anak akan menjauhi kita dan menolak semua usaha pendekatan

3. Berikan pendidikan seksual sesuai dengan usianya. Misalnya dengan menjelaskan perbedaan anatara fisik, biologis dan fungsi antara laki-laki dan anak perempuan. Jelaskan secara ilmiah dan serius dengan bahasa sederhana. Islam juga memberikan pedoman yang jelas masalah pendidikan seksual pada anak sejak usia anak-anak. Misalnya dengan memisahkan tempat tidur. Memberi batasan interaksi antara anak laki-laki dan perempuan, adab berpakaian dan lain-lain.

4. Memuji anak jika ia mau berdandan sesuai jenis kelaminnya. Contoh, "Subhanallah anak ibu ternyata sangat cantik kalau memakai baju muslimah".

5. Namun jika anak sudah mulai mau memakai rok, jangan terburu-buru menyingkirkan 'seragam' lamanya. Biarkan masa peralihan berjalan sedikit demi sedikit. Jika anak menolak gaun, jangan dipaksakan. Beri setelan celana panjang pentalon dan kaus lengan panjang atau lengan 3/4 yang kasual tapi manis.

6. Usahakan anak bergaul dengan anak perempuan lebih banyak dan lebih sering.

7. Berikan contoh. Agar anak mengikuti ibu. Misalnya berkunjung ke rumah teman ibu. Berkunjung dalam rangka silaturahim akan melatih anak untuk bersikap sopan, halus dan manis.

8. Beri pengertian kepada anak, bahwa anak laki-laki bukanlah mahluk super. Ajarkan bahwa anak perempuan juga sama istimewanya dengan anak laki-laki. Keduanya memiliki kelebihan dan kelemahan yang saling melengkapi.

posted by rezki @ 6:50 AM   0 comments
(Ketika) Empati Telah Mati
eramuslim - Seorang anak penyapu gerbong berusia tak lebih dari sembilan tahun sempat membuat dua mahasiswi berteriak hingga mengalihkan perhatian hampir seluruh penumpang di gerbong tersebut. Mahasiswi itu merasa kaget karena anak itu manarik-narik bagian bawah celana jeans-nya untuk meminta uang. Serta merta seorang pria dewasa berbadan kekar yang tak jauh dari dua mahasiswi itu melayangkan punggung tangannya tepat di bagian belakang kepala anak itu. Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali.
"Keluar kamu, kurang ajar!" tangannya terus melayang hinggap di kepala anak tersebut. Tidak cukup di situ, ditambah tendangan keras ke bagian tubuh anak yang tubuhnya hanya sebesar paha si penendang. Saya yang melihat kejadian itu langsung berteriak dan meminta pria itu menghentikan aksi kekerasannya.
"Dia ini kurang ajar pak, dari gerbong sebelah sudah kurang ajar." Ia membenarkan aksinya.
"Tapi dia juga kan manusia, apa pantas diperlakukan seperti itu?" tanya saya. "Dan apa tindakan bapak itu sebanding dengan kesalahannya? Tak perlu berlebihan seperti itu lah..."
Episode berakhir dengan turunnya anak tersebut di stasiun selanjutnya. Sementara pria berbadan tegap itu berdiri dekat pintu gerbong sambil berbincang dengan beberapa penumpang lainnya, lagi-lagi mencoba membenarkan tindakannya.
Tiga tahun lalu di Stasiun Kalibata, Jakarta, seorang pria setengah baya babak belur dihajar massa hingga koma. Kondisinya mengenaskan, wajahnya hancur, satu tangannya patah. Di sisa-sisa nafasnya yang tersengal satu persatu, saya menangkap rintihannya, "Saya bukan copet..."
Pria tersebut dijadikan tersangka pencopetan ketika seorang mahasiswi secara refleks berteriak "copet" saat tasnya tersenggol pria yang sudah nyaris mati tersebut. Secara serempak, dibarengi emosi yang tinggi puluhan pria langsung menggerebek dan mendaratkan kepalan tangan, juga ayunan kakinya berpuluh-puluh kali kepada pria tersebut. Padahal di belakang kerumunan tersebut, mahasiswi yang tadi refleks berteriak itu meminta orang-orang yang sudah terlanjur beringas itu menghentikan aksinya, karena ternyata, ia tak kehilangan satu apa pun dari dalam tasnya.
Tak satu kata pun bisa keluar dari mulut saya menyaksikan peristiwa itu. Bagaimana dengan mereka yang telah terlanjur memukul?
Orang bersalah memang harus dihukum, tapi terlalu sering seseorang mendapatkan hukuman yang tak setimpal. Kasus copet-copet yang dibakar misalnya, sebagian orang mudah saja berkata "Bakar saja, atau lempar dari kereta yang melaju cepat, biar jadi pelajaran bagi copet yang lain..."
Satu pertanyaan saja, bagaimana jika copet itu adik, kakak atau saudara Anda? Kalimat itu juga kah yang akan keluar dari mulut Anda? Atau bahkan bila copet itu Anda sendiri? Anda pasti meminta orang-orang menghukum Anda sewajarnya bukan? Anda bisa begitu mudah bertindak berlebihan menghukum atau memberikan balasan atas kesalahan orang lain. Bagaimana jika Anda yang berada pada posisi si bersalah? Relakah jika orang lain memperlakukan Anda secara tidak adil? Ya, begitu pula dengan orang-orang itu. Saya setuju mereka diberi hukuman atas kesalahannya, tapi memberikan hukuman lebih dari tingkat kesalahannya, jelas saya tidak setuju.
Seperti kejadian di kereta itu, saya harus berdebat dengan pria berbadan tegap itu dengan mengatakan bahwa tindakan kasarnya -menempeleng dan menendang- sangat tidak sebanding dengan kesalahan yang dilakukan anak itu. Saya juga tak mengerti kenapa nyaris semua orang di gerbong itu terdiam menyaksikan ketidakadilan berlaku di depan mata mereka? Sebagian besar orang yang ada di depan gerbong itu para karyawan, mahasiswa, orang-orang berpendidikan, tapi mengapa mereka hanya menutup mata? Bahkan seorang bapak di samping saya sempat berkata, "Anak itu juga seharusnya jangan kurang ajar..."
Saya katakan, cara anak itu meminta uang kepada penumpang (mungkin) memang salah. Tapi itu hanya tindakan kecil yang tak pantas dibalas dengan tempelengan dan tendangan keras berkali-kali ke tubuhnya. Kepada mereka yang terdiam dan tak berusaha melarang pria tegap itu melakukan aksi kekerasan, akankah Anda diam jika anak itu adalah anak, adik, keponakan, atau bahkan diri Anda sendiri?
Contoh sederhana, kita sering berharap orang lain memberikan tempat duduknya untuk isteri kita yang tengah mengandung atau menggendong si kecil. Tapi nyaris setiap hari kita tak pernah tergerak untuk berdiri dan merelakan tempat duduk kita untuk mereka yang lebih berhak, kemudian berpura-pura tidur. Adilkah?
Mungkin empati sudah mati, atau telah pergi entah ke mana.
posted by rezki @ 6:48 AM   0 comments
Fatimah

Dari Aisyah r.a., Ummul Mukminin: Kami, para istri Rasulullah, sedang duduk bersama Rasulullah dan tidak satupun dari kami yang pergi hingga Fatimah a.s. berjalan menghampiri, dan Demi Allah, gaya berjalannya sangat mirip dengan Rasulullah. Ketika beliau melihatnya, beliau menyambutnya dan berkata, “Selamat datang, wahai anakku!” Kemudian beliau menyuruhnya duduk di sisi sebelah kanan atau kirinya, menceritakan sebuah rahasia kepadanya, dimana ia kemudian menangis tersedu-sedu. Ketika beliau menyadari kesedihannya, beliau kemudian menceritakannya sebuah rahasia untuk yang kedua kalinya, dan ia menjadi tertawa. Hanya aku, dari para istri Rasulullah, yang berkata padanya, “(Ya Fatimah), Rasulullah telah memilihmu dari kami semua untuk sebuah pembicaraan rahasia dan masih juga engkau menangis” Ketika Rasulullah berdiri, (dan kemudian pergi) aku bertanya padanya, “Apa yang telah beliau ceritakan padamu” Ia berkata, “Aku tidak akan membuka rahasia dari Rasulullah.” Tetapi ketika Rasulullah telah wafat aku (kembali) bertanya padanya, “Aku memohon padamu dengan sungguh-sungguh dengan apa yang menjadi hakku atasmu, untuk memberitahuku (pembicaraan rahasia antara Rasulullah dan dirimu).” Ia berkata, “Sebab engkau bertanya padaku sekarang, ya, (aku akan memberitahukannya).” Ia memberitahuku dengan berkata, “Ketika beliau menceritakan rahasia itu pada kali pertama, beliau berkata bahwa Jibril biasa mengulang bacaan Al-Qur'an dengan Rasulullah sekali dalam setahun. Beliau menambahkan, ‘Tetapi tahun ini ia (Jibril) melakukannya dua kali, dan kemudian aku berpikir bahwa waktu ajalku sudah dekat. Maka, takutlah pada Allah, dan bersabarlah, sebab aku akan menjadi pendahulumu yang terbaik di Hari Kemudian.’” Fatimah menambahkan, “Maka aku pun menangis seperti yang engkau saksikan. Dan ketika Rasulullah mendapatiku bersedih, beliau menceritakan rahasia padaku untuk kali yang kedua dan berkata, ‘Ya Fatimah, tidakkah engkau bergembira sebab engkau akan menjadi pemimpin dari para wanita yang beriman (para mukminat).”’

posted by rezki @ 6:48 AM   0 comments
Duhai Muslimah, Berbekallah!
Publikasi: 08/02/2005 11:19 WIB

eramuslim - Saya pernah membaca kisah seorang wanita pengusaha yang memulai usahanya dari nol. Uniknya si ibu muda ini dulunya pernah mengenyam bangku kuliah sebuah universitas swasta terkenal di Jakarta. Semasa kuliah ia aktif dalam salah satu organisasi di kampusnya. Setelah menikah ia tinggalkan semua aktifitas di luar, karena sang suami yang seorang pengusaha menginginkan ia menjadi seorang ibu rumah tangga sejati yang hanya mengurusi rumah tangga dan anak-anaknya.
Kisah usaha ibu muda ini berawal dari kegagalan usaha sang suami yang berujung pada kebangkrutan. Sang suami saat itu mengalami depresi karena kegagalannya tersebut. Melihat kondisi seperti itu, wanita tegar ini langsung berinisiatif untuk menghidupkan kembali salah satu usaha milik suaminya. Saat itu yang masih mereka punyai hanya beberapa unit mesin jahit bekas usaha konveksi suaminya.
Dengan semangat ia mulai mempelajari teknik membuat pola dan menjahit hingga akhirnya ia bisa membuat sebuah blazer yang kemudian ia jajakan contoh jahitannya itu dari satu toko ke toko lain di sebuah pasar di Jakarta.
Awal usahanya ini memang berat, toko-toko yang ia datangi menolak contoh jahitannya itu. Beberapa hari kemudian akhirnya sebuah toko bersedia menjual blazernya. Dan ternyata kegigihannya membuahkan hasil; blazernya laku keras, orderan pun mengalir deras, hingga akhirnya ia bisa mempekerjakan banyak karyawan, memperbesar usahanya dan tentu saja berhasil menyelamatkan biduk rumah tangganya yang hampir karam.
***
Baru-baru ini ada kisah menarik tentang seorang ibu muda berusia 34 tahun asal Wonocolo Surabaya. Ia adalah seorang pengusaha mikro lulusan sekolah menengah atas. Pada tanggal 18 November yang lalu ia menghadiri sekaligus berbicara di Ruang Konferensi II Markas Besar PBB setelah memenangi lomba Micro Credit Award 2005 yang diselenggarakan oleh Kantor Menko Perekonomian. Ia berada di forum internasional yang dihadiri 250 delegasi negara anggota PBB itu untuk menghadiri pencanangan Tahun Kredit Mikro Internasional 2005.
Penuturan ibu muda berputra tiga orang ini tentang usaha kecilnya mengundang decak kagum siapa pun yang hadir saat itu. Ia tidak hanya telah berhasil mengembangkan usaha membuat pakaian, tas, aksesori, dan barang kerajinan dari kain atau percanya yang diawalnya pada tahun 1998 dengan hanya bermodalkan uang 500 ribu rupiah itu dengan secara profesional tapi juga ia telah berhasil membina dan memberdayakan para pekerjanya yang 80 persen adalah tuna daksa.
Atas hadiah yang diterima, ia mengatakan uang itu akan digunakan membangun paviliun guna menampung para tuna daksa dan remaja putus sekolah yang dilatih di rumahnya, karena selama ini para pekerjanya tidur di setiap celah yang ada di rumahnya.
***
Seperti kata Ibu Dewi Sartika, salah satu Pahlawan Emansipasi Wanita Indonesia, bahwa wanita harus mempunyai pengetahuan untuk hidup. Perkataannya itu keluar sebagai kesadarannya yang timbul setelah bapaknya yang seorang patih di Bandung meninggal dunia, dan kekayaan keluarganya disita oleh pemerintah Belanda. Saat itu usianya masih belasan tahun, tapi Dewi sartika dan ibunya harus berjuang untuk hidup.
Ya, wanita memang harus mempunyai pengetahuan untuk hidup. Ada kalanya kehidupan datang tidak seperti yang kita inginkan. Seperti kejadian ibu muda di atas yang tiba-tiba harus berjuang menyelamatkan rumah tangganya. Beruntung si ibu ini pernah mengenyam pengalaman berorganisasi sehingga pada dirinya sudah tertanam keterampilan interpersonal yang baik juga semangat untuk berjuang dan belajar. Bagaimana halnya jika hal ini terjadi pada wanita yang selama hidupnya serba lancar-lancar saja, maksudnya belum pernah mengalami terpaan hidup? Bisa jadi ia pun bisa menjadi penyelamat biduk rumah tangganya, tapi bukankah sesuatu yang datangnya tiba-tiba akan memberikan goncangan jiwa yang tidak bisa dianggap enteng?
Banyak para suami, karena terlalu sayang pada istri, tidak mengizinkan para istri untuk bekerja. Hal ini memang bisa dipahami karena suamilah yang bertugas mencukupi kehidupan keluarga. Tapi alangkah baiknya jika para suami pun memberikan keterampilan hidup bagi para istrinya atau memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya sehingga istrinya bisa memiliki peranan tidak hanya dalam rumah tangganya saja tapi juga peranan dalam membina lingkungan masyarakatnya seperti halnya ibu muda pengusaha mikro yang saya ceritakan di atas.
Ada juga wanita yang setelah anak-anaknya tumbuh dewasa, baru bisa membantu finansial keluarga ataupun turut aktif dalam mewujudkan keshalehan sosial di lingkungannya. Selama masa-masa membesarkan anak-anaknya, dia tidak pernah berhenti belajar sehingga ketika saatnya tiba dia bisa berperan lebih.
Memang sulit bagi wanita zaman sekarang untuk berperan ganda. Di zaman yang penuh tantangan ini tidaklah mudah mendidik anak sementara dia juga harus aktif di luar rumah, seperti bekerja ataupun aktif dalam kegiatan masyarakat. Jangan-jangan sukses di luar tapi anak-anaknya mengalami degradasi moral akibat kurangnya perhatian orang tua yang sibuk bekerja. Hal ini dikembalikan kepada istri dan sang suami karena ternyata tidak sedikit keluarga yang istrinya bekerja tapi bisa mengantarkan anak-anaknya menjadi pribadi yang mandiri dan berakhlak baik.
Ada baiknya kita renungkan kembali perkataan Ibu Kita Dewi Sartika juga pengalaman sebagian wanita "petarung", seperti cerita wanita di atas, tentang pentingnya wanita memiliki keterampilan hidup sejak dini, agar di saat yang tepat mereka mampu berperan lebih dan tampil mandiri tanpa harus merepotkan orang-orang di sekitarnya di saat-saat biduk rumah tangganya berada pada kondisi gawat darurat.
posted by rezki @ 6:46 AM   0 comments
Dua Puluh Satu Kali!
Publikasi: 01/03/2004 12:22 WIB

eramuslim - “Dua puluh satu kali, Mbak?” mataku membulat. Takjub. Aku merentangkan kesepuluh jari tangan sambil melihat ke bawah ke arah telapak kaki yang terbungkus sepatu. 21! Bahkan seluruh jemari tangan dan kakiku pun tak cukup buat menghitungnya. “Itu selama berapa tahun, Mbak?” Aku bertanya lebih lanjut.

“Hhmm, kurang lebih tujuh tahun terakhir!” sambutnya gi, ringan saja. Tak tampak pada raut wajahnya yang sudah mulai dihiasi kerut halus kesan malu, tertekan taupun stress. Wajah itu damai. Wajah itu tenang. Tak menyembunyikan luka apalagi derita.

“Mbak… ehmm, maaf, tidak patah arang… sekian kali gagal?” Takut takut aku kembali bertanya dengan nada irih. Khawatir menyinggung perasaannya. Dia hanya kembali tersenyum. Tapi kali ini lebih lebar. Sumringah. Dia mengibaskan tangan, sebagai jawaban bahwa dia tak trauma dengan masalah itu.

“Kalau sedih, kecewa, terluka… pasti pernah lah ada saat-saat seperti itu. Trauma…. sebenarnya pernah juga.
Nyaris putus asa juga pernah. Namun alhamdulillah tidak berlarut-larut.”

Mata itu berbinar-binar, seakan turut bicara.

“Justru, kini saya merasa lebih dewasa, lebih matang dengan semua kegagalan itu. Banyak sekali pelajaran yang bsia diambil dari tiap kegagalan itu. Saya menjadi lebih bisa mengerti berbagai karakter manusia. Saya dapat lebih menghayati realitas dan kuasa Allah atas hidup kita. Dan pasti jadi lebih banyak pengalaman… setidaknya pengalaman proses menuju nikah hingga 21 kali..hahaha,” dia tertawa lepas. Renyah. Manis sekali.

Perempuan itu, kini sudah 30 tahun lewat usianya. Sebuah usia yang tak lagi remaja memang. Sebuah usia yang sangat wajar dan pantas jika ia resah karena jodoh tak kunjung tiba. Namun ia tak nampak panik atau gelisah. Bisa jadi ia memang pandai menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Namun saya lebih percaya ketenangannya tumbuh karena kematangan dan keimanan.

Gadis ini dapat dikatakan sederhana. Dengan penampilan sederhana pula. Aktifitasnya pun bersahaja walaupun dulunya dia termasuk aktifis tingkat tinggi. Sehari-hari ia bekerja sebagai staf pengajar di sebuah lembaga pendidikan. Aktifitasnya yang lain adalah mengajar TPA, mengikuti pengajian rutin maupun berbagai pengajian umum yang banyak diselenggarakan oleh berbagai lembaga di berbagai lokasi di Jakarta.

Selebihnya ia lebih banyak di rumah. Membaca buku dan membantu mengurus pekerjaan rumah tangga karena Ibunya tidak memiliki pembantu. “Proses pertama saya jalani ketika saya baru menyelesaikan kuliah saya. 22 tahun usia saya ketika itu. Waktu itu tentu saja saya tidak sebersahaja sekarang.” Dia mulai bercerita. Saya menunggu.

"Saya masih ingat sekali. Waktu itu saya mengajukan berbagai kriteria. Saya ingin calon suami yang sarjana, pekerjaan mapan, aktifis dakwah atau minimal memiliki pemahaman agama yang bagus, dari keluarga baik-baik, dan sama-sama orang jawa seperti saya. Sebuah kriteria yang saya rasakan konyol sekarang, namun dulu saya pikir itu wajar. Muslimah mana yang tidak memiliki idealisme seperti itu?"

Ia melanjutkan ceritanya...

"Ada beberapa orang yang ditawarkan oleh guru ngaji maupun oleh orang tua. Ada juga yang datang sendiri. Tetapi semua saya tolak. Saya pikir waktu itu saya masih muda. Saya mengisi masa muda saya dengan berbagai aktifitas positif sambil terus menunggu seseorang yang mendekati kriteria yang saya inginkan. Maka saya pun mulai memperbanyak aktifitas. Mengambil banyak kursus, mengikuti bebagai pelatihan dan aktif di beberapa komunitas sosial kemasyarakatan."

"Usia saya menjelang 25 tahun ketika saya menemukan seseorang dengan kriteria seperti yang saya inginkan. Awalnya proses kami lancar-lancar saja. Orang tuanya bahkan sudah datang mengkhitbah ke rumah. Bahkan kita sudah akan menentukan tanggal pernikahan. Tapi oleh alasan yang sepele, tiba-tiba orang tuanya membatalkan khitbah. Sungguh saya shock waktu itu. Saya tak habis mengerti, apa yang salah dengan saya, dengan dia dan dengan proses kami?"

"Cukup lama saya tenggelam dalam kesedihan. Beberapa waktu kemudian sebenarnya banyak lagi yang mengajukan tawaran. Tapi saya selalu membandingkan dengan mantan calon suami saya. Saya menggunakan parameter dia untuk menilai setiap orang yang datang pada saya. Meskipun saya tidak pernah menolak lagi orang-orang yang datang kemudian itu, tapi entah mengapa proses selalu berakhir dengan kegagalan. Saya tak lagi menghitung, itu sudah yang keberapa kali. Akhirnya saya kembali menenggelamkan diri dalam aktifitas sosial dan organisasi. Saya aktif di partai. Dan saya sempat tak lagi memedulikan masalah menikah."

"Usia saya sudah lewat dua puluh tujuh. Justru orang-orang lain yang mulai ribut. Orang tua terutama. Kemudian kaum kerabat. Juga teman-teman saya. Merekalah yang kemudian menawarkan dan mencomblangi. Saat itu saya mulai belajar dari pengalaman. Saya tak lagi terlalu idealis. Saya menyerahkan saja kepada para perantara saya itu. Saat mereka meminta biodata, maka saya berikan biodata saya. Saya netral saja. Kalau diterima ya syukur, tidak diterima ya sudah. Dan ternyata nyaris semua tidak diterima. Alasannya macam-macam. Kebanyakan bahkan saya tak sampai ketemu mereka, sudah ditolak duluan. Saya sudah tak menghitung lagi berapa banyak biodata yang saya buat. Rata-rata tidak kembali."

"Usia saya sudah lewat dua puluh delapan tahun saat saya menyadari bahwa saya harus mulai proaktif. Saya tak lagi menyerahkan begitu saja pada nasib atau teman-teman. Saya harus mulai mencari sendiri juga. Tentu saja tetap dengan cara-cara yang ahsan."

"Pada usia ke-29 saya menemukan seseorang lagi. Dia sholeh. Sederhana. Jauh dari kriteria ideal saya, tapi saya merasa tenteram dengan menerimanya. Proses kami pun sederhana. Semuanya lancar. Tapi…Allah berkehendak lain. Calon saya meninggal dalam sebuah kecelakaan."

Sampai disini si Mbak menghentikan ceritanya sejenak. Mengambil napas panjang dan menyusut sudut mata. Aku turut terenyuh mendengarnya. Saat itu baru kulihat kabut selintas menghiasi wajahnya.

"...Semua sudah berlalu sekarang. Sudah nyaris dua tahun lalu. Saya mencoba bangkit lagi. Setahun terakhir, lima proses saya jalani. Menambah 16 proses sebelumnya yang tak semuanya saya ingat lagi. Lima proses itu saya jalani dengan lebih pasrah. Lebih lapang dada. Saya menghargai mereka masing-masing. Saya tidak membanding-bandingkan. Saya tak lagi menggebu, tak lagi sangat idealis…. tapi juga tak membuat saya membabi buta, menerima siapa saja seperti membeli kucing dalam karung."

"Satu orang gagal sebelum biodata saya sampai kepadanya. Dia sudah lebih dulu menerima orang lain. Orang kedua, pemuda yang biasa-biasa saja, tak mau menerima syarat saya untuk belajar ngaji pada teman saya sesama laki-laki. Dia memaksa belajar pada saya dan mendesak agar saya jadi pacarnya dulu. Orang ketiga, menolak karena orang tuanya tidak mau menerima orang yang tidak sesuku dan dia ingin menuruti kehendak orang tuanya. Orang keempat, teman saya sendiri, mengatakan kalau dia belum siap meski tidak menolak. Orang kelima berubah pikiran di tengah proses. Tadinya dia tidak mempermasalahkan usia saya yang lebih tua, tetapi kemudian dia mengatakan kepada perantara saya ingin mencari yang usianya lebih muda."

"Pengalaman-pengalaman yang saya jalani selama ini telah memberi banyak sekali pelajaran dalam hidup saya. Satu, bahwa hidup tak selalu berjalan seperti yang kita inginkan.
Dua, bahwa pengalaman adalah benar-benar guru yang sangat berharga. Tiga, bahwa setiap orang benar-benar memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dan mereka semua layak untuk mendapat penghargaan sebagai seorang manusia. Empat, jika saya tak dapat memperoleh apa yang saya cintai, maka lebih baik saya mencintai apa yang saya telah saya peroleh dan memiliki.
Lima, dan banyak lagi. Intinya, jika memang bukan jodoh, bahkan hal-hal kecil pun dapat menjadi penghalang dan penyebab gagalnya perjodohan."

"Kini saya merasa lebih pasrah dan arif menyikapi hidup. Tak ada yang salah, tak ada yang ribet. Hanya waktu yang belum tiba pada masanya. Hanya puzzle yang belum menemukan pasangannya. Semua masih biasa saja."

Si Mbak mengakhiri ceritanya. Tersenyum tulus kepadaku. Aku menyambutnya. Dan kami tenggelam dalam dekap haru. Pelukan persaudaraan.

posted by rezki @ 6:43 AM   0 comments
Dear Ukhti-ukhtiku...
Publikasi: 10/12/2003 12:20 WIB

eramuslim - Dear ukhti-ukhtiku yang kucintai karena Allah, apa kabar iman-mu hari ini? Semoga Allah Yang Maha Indah selalu memberi keindahan padamu dan melindungimu dari segala keburukan
Ukhti-ukhtiku yang kucintai karena Allah, sebaik2 perhiasan dunia adalah wanita sholehah. Dan "perkara yang pertama kali ditanyakan kepada seorang wanita pada hari kiamat nanti, adalah mengenai sholat lima waktu dan ketaatannya terhadap suami." (HR.Ibnu Hibbab dari Abu Hurairah)
Ukhti-ukhtiku,
Pagi ini aku membaca sebuah buku didalamnya terdapat 10 wasiat Rasulullah kepada putrinya Fathimah binti Rasulillah.
Sepuluh wasiat yang beliau sampaikan merupakan mutiara yang termahal nilainya, bila kemudian dimiliki oleh setiap istri sholehah. Wasiat tsb adl:
1. Ya Fathimah, kepada wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum, melebur kejelekan dan meningkatkan derajat wanita itu.
2. Ya Fathimah, kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah menjadikana dirinya dengan neraka tujuh tabir pemisah
3. Ya Fathimah, tiadalah seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan mencuci pakaiannya, melainkan Allah akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu org yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang
4. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, melainkan Allah akan menahannya dari minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.
5. Ya Fathimah, yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhoaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridho kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah wahai Fathimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah
6. Ya Fathimah, apabila wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika wanita merasa sakit akan melahirkan, Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah. Jika dia melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Bila meninggal ketika melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikitpun. Didalam kubur akan mendapat pertamanan indah yang merupakan bagian dari taman sorga. Dan Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.
7. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas, melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Dan Allah memberikan kepadanya pahala seratus kali beribadah haji dan umrah.
8. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang tersenyum di hadapan suami, melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih.
9. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang membentangkan alas tidur untuk suami dengan rasa senang hati, melainkan para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wannita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
10. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman arak yang dikemas indah kepadanya yang didatangkan dari sungai2 sorga. Allah mempermudah sakaratul-maut baginya, serta kuburnya menjadi bagian dari taman sorga. Dan Allah menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal-mustaqim dengan selamat.
Ukhi-ukhtiku yang kucintai karena Allah Begitu indah menjadi wanita Dengan kelembutan dan kasihnya Dapat merubah dunia Jadilah diri-dirimu menjadi wanita sholehah Agar negeri menjadi indah Karena dirimu adalah tiang negeri ini
Ukhti-ukhtiku yang kucintai karena Allah Tidakkah dirimu galau Melihat keadaan negeri saat ini Apa yang akan kau katakan pada anakmu kelak Saat ia bertanya mengapa negeriku sperti ini?Jadilah diri-dirimu menjadi wanita sholehah Karena esok negeri ini ditangan generasi kita
Ukhti-ukhtiku yang kucintai karena Allah Begitu indah menjadi istri Setiap perbuatannya merupakan pahala untukmu Lakukan dengan ikhlas karena Allah Insya Allah dunia akhirat ada ditanganmu
Ukti-ukhtiku yang kucintai karena Allah Semoga Allah yang Maha baik Menjadikan kita wanita dan istri sholehah Membantu dan membimbing kita untuk tetap dijalanNya Amiin.
Untuk ukti-ukti ku dimanapun dirimu berada... miss U
posted by rezki @ 6:42 AM   0 comments
Allah Sedang Mengabulkan Do'aku Yang Terbesar
Publikasi: 11/03/2004 03:33 WIB

eramuslim - Aku menangis. Untuk ke sekian kali. Entahlah, aku tidak dapat menjelaskan dengan kata-kata kenapa aku bisa terus mengeluarkan air itu di kedua sudut mataku itu. Aku hanya bisa berdiam, di sudut kamar, mencoba merefleksikan dimana aku sekarang, dan sudah sejauh apakah kakiku melangkah menjauhi kehidupanku sebelumnya.
Berulang kali saya berteriak dalam hati "SIAPA SEBENARNYA AKU?"
Bulan Desember beberapa tahun lalu...
Aku tiba-tiba menjadi sorotan banyak kawan. Aku diberi selamat. Dilontari dengan pujian dan rasa syukur. Banyak kudapati mata-mata yang menyorot tidak percaya. Jujur…..itu yang menbuatku bisa ‘kuat’ pada saat itu.
Pada saat yang sama sekaligus aku dengarkan bisik-bisik yang berisi caci maki dan protes di belakangku. Dan mungkin ini yang membuatku selalu menangis dalam kesendirian di awal-awal perubahan itu.
Aku memang memutuskan berubah. Aku yang semula dikenal amburadul, aktivis pecinta alam, yang sangat mengagungkan komunitas lelaki, sekaligus seorang penggiat di kelompok teater TEMIS, tiba-tiba memutuskan untuk menghijabi penampilan, bahkan langsung dengan mengenaikan pakaian dan jilbab lebar !
Entahlah, aku tidak begitu megingat apa yang sedang terjadi waktu itu.
Aku tidak sedang sakit hati karena putus cinta, aku tidak sedang frustasi karena apapun.
Yang terjadi waktu itu adalah (dan ini yang saya yakin sekali),
"ALLAH SEDANG KABULKAN DO’AKU YANG TERBESAR!"
Banyak orang bertanya kenapa aku bisa mengambil keputusan yang begitu kontroversial seperti itu ? (kontroversial…? Tidak juga !) Well, satu prinsip yang selalu aku pegang adalah : "jangan nafikan kebenaran, dari siapapun datangnya…"
Maka ketika mulai muncul keresahan dalam diriku mengenai kehidupan yang sedang aku jalani. Ada beragam pertanyaan yang aku sendiri tiada mampu menjawabnya. "Apa yang sebenarnya aku cari dari begitu banyak aktivitas yang kugeluti?" "Apa yang aku dapati sepulang besenang-senang dengan ‘geng’ ku?"
Kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam (kebun mawar di jimbaran menjadi tempat favorit kami), kadang seharian hanya untuk bersenang-senang. Tapi begitu pulang aku kembali merasa kesepian…….. Aku mulai bertanya "akan seperti inikah hidup saya?" "Akan seperti ini teruskah waktu kuhabiskan?"
Aku mulai merasakan ketidaknyamanan……
Akhirnya aku mulai berkenalan dengan orang-orang rohis di kampus. Awalnya aku emoh mengenal mereka. Aku berfikir bahwa mereka adalah kelompok eksklusif yang pasti akan memandang rendah orang lain, khususnya aku.
Tapi saya aku akan tantangan……
Jadilah aku berkenalan dengan mereka.
Ternyata.... aku keliru. Stempelku terhadap mereka basi. Mereka ternyata adalah orang-orang yang penuh perhatian dan memiliki banyak cinta untuk dibagikan….
Dan aku tertarik untuk mengambil cinta itu…
Jadilah kami saling mencintai…. karena Allah tentu…
Dari mereka resahku terjawab. Dari mereka aku fahami kebenaran itu. Aku mendapat banyak ilmu dari seluruh pertanyaan yang kulontarkan dan mampu mereka jawab.
Aku merasa menemukan sesuatu yang kucari selama ini. Jujur….aku mulai merasa nyaman dengan berdekatan bersama mereka.
Maka inilah yang kudapati dari pengembaraan ini. Untuk mengingatnya selalu aku coba menuliskannya. Tidak hanya dalam buku catatanku, tapi turut tersimpan rapi dalam ruang fikir dan hati yang tidak bersekat.
Kehidupan pada hakekatnya merupakan arena besar untuk manusia. Dalam kehidupan, jasad manusia menjadi bagian dari realita dunia materi. Jasad tersebut menjadi potensi besar yang dimiliki oleh manusia. Dengannya manusia mampu mengekspresikan dua unsur, yaitu akal dan ruh (hati).
Maka ketika hanya kekuatan jasad yang dominan, manusia akan menjadi sosok yang ‘bodoh dan penantang’. Allah sebutkan hal ini dalam Q.S Yaasiin :77
"Dan apakah manusia tidak bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani). Maka tiba-tia ia menjadi penantang yang bodoh"
Selain itu, ada lagi sosok manusia yang tidak hanya memperhatikan unsur jasad mereka tapi juga ruh ruhani dan aqli. Mereka membebaskan diri dari pandangan-pandangan sempit materalisme. Mereka memandang bahwa unsur terpenting mereka adalah unsur ruh karena ruh itulah yang bergerak. Ia masuk ke rahim ibu, kemudian ke alam jasadi, alam fisik atau dunia materi. Dan akhirnya ia kembali ke alam yang sebenarnya.
Manusia-manusia ini disebut manusia fitrah. Yaitu manusia-manusia yang memahami hakekat kemanusiaannya. Meyakini Allah yang ghaib.
Keyakinan manusia-manusia fitrah ini begitu kuat. Mereka menjalani hari-hari dalam hidupnya dengan optimis.
Merekalah manusia yang menjual dirinya kepada Allah dengan tebusan surga yang penuh kenikmatan. Allah menjelaskan cirri-cirinya dalam Q.S Taubah:112
"Mereka itu adalah at taibun, al Hamidun, al Abidun, as Saibun, ar Ra’kiun as Sajidun, al Amruna bil ma’ruf wan Nabuna anil munkar, al Hafidzuna li bududillah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.."
Begitulah….
Aku gemetar untuk menuliskan lebih lanjut perenungan ini.
Bukan aku memang yang membuat kata-kata itu. Tapi hal itu tidak membuatku menjadi tidak merenung lebih dalam ketika membacanya.
Aku lantas bertekad untuk hidup lebih lama di dunia. Aku perlu hidup. Karena dengan menjadi hidup dan bernyawa, aku mampu melakukan perniagaan kepada Allah SWT. Perniagaan yang memperjual belikan surga ….Aku harus mampu membuktikan bahwa saya mampu menjadi manusia fitrah !
Tujuan hidupku cuma satu….
"Bagaimana aku mampu menjadi manusia cerdas, yang memiliki visi jauh ke depan, tidak hanya di dunia materi ini tapi juga di alam kekal abadi, tempat manusia sebenarnya. Dengan itu aku termotivasi untuk mencari bekal hidup, melalui kesadaran awal bahwa saya hanyalah seorang hamba."
Maka beginilah aku ….
Tidak terasa aku sudah menjalani proses ‘keajaiban’ ini selama 3 tahun kurang 97 hari. Aku tidak berusaha mengatakan bahwa saya jauh lebih baik dari orang lain. Tapi setidaknya diriku hari ini jauh lebih baik daripada diriku yang beberapa tahun lalu.
Dan aku berbahagia untuk itu……
posted by rezki @ 6:41 AM   0 comments
Dajjal

Dari Abu Sa’id: Suatu hari Rasulullah menceritakan kepada kami sebuah penjelasan panjang mengenai Ad-Dajjal dan di antara hal-hal yang beliau sampaikan kepada kami, adalah: “Ad-Dajjal akan muncul, dan ia terlarang untuk memasuki celah-celah gunung atau jalan masuk ke Madinah. Ia akan bermukim di salah satu tepian laut yang berdekatan dengan Madinah, dan akan datang padanya seorang laki-laki yang akan menjadi yang terbaik atau salah satu dari yang terbaik dari umat manusia. Ia akan berkata, ‘Aku bersaksi bahwa engkau adalah Ad-Dajjal yang telah diceritakan oleh Rasulullah kepada kami.’ Ad-Dajjal akan berkata (kepada orang-orang yang mengikutinya), ‘Apabila aku membunuh laki-laki ini dan kemudian membuatnya hidup kembali, apakah engkau akan meragukan apa yang akan aku katakan’ Mereka akan menjawab, ‘Tidak’. Kemudian Ad-Dajjal akan membunuh laki-laki itu dan kemudian menghidupkannya kembali. Laki-laki tersebut akan berkata, ‘Demi Allah, sekarang aku mengenalimu lebih dari sebelumnya!’ Ad-Dajjal kemudian akan mencoba untuk membunuhnya (kembali) namun ia tidak kuasa melakukannya.”

posted by rezki @ 6:38 AM   0 comments
Atas Nama Cinta?
Publikasi: 15/12/2004 07:48 WIB

eramuslim - Seorang pakar cinta dari dataran Cina bernama Mo Tzu, yang hidup sekitar (470 s/d 391 sebelum Masehi) mengajarkan sebuah ajaran cinta kepada dunia. Salah satu kalimatnya tentang cinta berbunyi:
"Seorang yang mengaku taat kepada kehendak langit maka dia akan menebar cinta secara mondial, sedang siapa yang ingkar terhadap kehendak langit dipastikan akan bercinta secara parsial."
Alhamdulillah kita lahir dan besar sebagai muslim, salah satu karakteristik agama Islam di antara agama langit (samawi) adalah dia bersifat universal. Tak peduli akan ras, bahasa, dan benua, Islam adalah agama yang Allah peruntukkan untuk dunia dan Insya Allah juga akan (kembali) menyatukan dunia.
Sehingga berkesan sekali refleksi Asy-Syahid Hasan Al-Banna tentang kesatuan dunia,
"Yang membedakan antara kaum muslimin dan pejuang nasionalis adalah bahwa paham nasionalisme kaum muslimin berdasarkan aqidah Islam. Misalnya, mereka berjuang untuk negara Mesir dengan mati-matian, sebab Mesir adalah bagian dari dunia Islam dan pemimpinnya adalah ummat Islam. Tetapi mereka tidak berhenti sampai di situ saja. Mereka juga berbuat demikian terhadap setiap tanah dan negara Islam yang lain. Sedangkan para pejuang nasionalis berjuang untuk bangsanya saja,"
Begitu kuat pengaruh cinta kepada dunia, sehingga atas nama cinta seorang Khalid bin Walid, laki laki besar dalam sejarah Islam, bisa 'takluk' kepada dunia.
Berkata Khalid, hanya karena cintanya terhadap dua hal sajalah yang sanggup membuatnya 'betah' berada di dunia, yang pertama cintanya yang menelaga terhadap istri tercinta, dan yang ke dua cintanya untuk berjihad membela agama Allah.
Bahkan atas nama cinta, Allah menjamin 2 golongan dari 7 yang dijamin-Nya akan memperoleh naungan-Nya di saat tidak ada naungan selain Naungan Allah, yaitu seorang yang di masa mudanya mencintai masjid dan dua pasang kekasih yang saling mencinta karena Allah.
Secara global Imam Syafi'i menggambarkan sosok orang yang terbukti sedang jatuh cinta dengan, "Seseorang akan mencintai apa apa yang dicintai oleh orang yang dicintainya."
Lebih konkrit, gerakan perjuangan Palestina menggambarkan karakterisitk orang yang telah teruji cintanya dan imannya dengan parameter shalat berjamaah di masjid untuk penilaian kelulusan pelaksanakan amanah mulia berupa aksi mengejar syuhada.
Dan atas nama cinta, Zaid bin Tsabit berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Duhai alangkah baiknya negeri Syam itu (Palestina), duhai alangkah baiknya negeri Syam itu." Para shahabat kemudian bertanya, "Ya Rasulullah, kenapa Engkau memuji Syam seperti itu?" "Para malaikat membentangkan sayapnya atas kota Syam tersebut," jawab Nabi selanjutnya. (HR Tirmidzi dan Ahmad)
Jadi kira kira apa bukti cinta orang-orang yang berkata, "Aku Bicara Atas Nama Cinta"?
posted by rezki @ 6:38 AM   0 comments
Cinta Tak Terbalas
Publikasi: 21/04/2003 16:48 WIB

eramuslim - Kadang saya iri melihat orang-orang di sekeliling saya, disayangi oleh “seseorang”. Apalagi di bulan Februari. Di mana-mana nuansanya Valentine. Saya memang penganut “tiada pacaran sebelum akad”, tapi sebagai manusia kadang timbul juga perasaan ingin diperhatikan secara istimewa.

Saya tidak pernah tahu rasanya candle light dinner. Pun tidak pernah menerima bunga mawar merah. Tidak ada yang menawarkan jaketnya saat saya menggigil kedinginan. Atau berpegangan tangan sambil melihat hujan meteor. (Deuh, Meteor Garden banget! He..he...)

Yah, mungkin saya bisa merasakan sekilas hal-hal itu kalau saya sudah menikah. Mungkin. Mudah-mudahan. Tapi sampai saatnya tiba, bagaimana caranya supaya tidak kotor hati?

Lalu saya pun tersadar, tiga kata cinta yang saya rindukan itu sudah sering saya dengar. Orang tua saya selalu mengucapkannya. Memanggil saya dengan “sayang” betapapun saya telah menyusahkan dan sering menyakiti mereka. Mungkin mereka bahkan memanggil saya seperti itu sejak saya belum dilahirkan. Padahal belum tentu saya jadi anak yang bisa melapangkan mereka ke surga... Belum tentu bisa jadi kebanggaan... Jangan-jangan hanya jadi beban...

Tatapan cinta itu juga sering saya terima. Dari ibu yang bergadang menjaga saya yang tengah demam... Dari ayah yang dulu berhenti merokok agar bisa membeli makanan untuk saya... Dari teman yang beriring-iring menjenguk saya ketika dirawat di rumah sakit... Dari adik yang memeluk saya ketika bersedih. Dari sepupu yang berbagi makanan padahal ia juga lapar. Dari orang tua teman yang bersedia mengantarkan saya pulang larut malam. Betapa seringnya kita tidak menyadari...

Tidak hanya dari makhluk hidup. Kasih dari ciptaan Allah lainnya juga melimpah. Matahari yang menyinari dengan hangat. Udara dengan tekanan yang pas. Sampai cinta dari hal yang mungkin selama ini tidak terpikirkan. Saya pernah membaca tentang planet Jupiter. Sebagai planet terbesar di tata surya kita, Jupiter yang gravitasinya amat tinggi, seakan menarik bumi agar tidak tersedot ke arah matahari. Benda-benda langit yang akan menghantam bumi, juga ditarik oleh Jupiter. Kita dijaga! (Maaf buat anak astronomi kalau salah, tapi setahu saya sih kira-kira begitulah)

Di atas segalanya, tentu saja ada cinta Allah yang amat melimpah. Duh... Begitu banyaknya berbuat dosa, Allah masih berbaik hati membiarkan saya hidup... Masih membiarkan saya bersujud walau banyak tidak khusyunya. Padahal kalau Ia mau, mungkin saya pantas-pantas saja langsung dilemparkan ke neraka Jahannam... Coba, mana ada sih kebutuhan saya yang tidak Allah penuhi. Makanan selalu ada. Saya disekolahkan sampai tingkat tinggi. Anggota tubuh yang sempurna. Diberi kesehatan. Diberi kehidupan. Apalagi yang kurang? Tapi tetap saja, berbuat maksiat, dosa... Malu...

Tentu ada ujian dan kerikil di sepanjang kehidupan ini. Tapi bukankah itu bagian dari kasih-Nya juga? Bagaimana kita bisa merasakan kenikmatan jika tidak pernah tahu rasanya kepedihan? Buat saudaraku yang diuji Allah dengan cobaan, yakinlah bahwa itu cara Allah mencintai kita. Pasti ada hikmahnya. Pasti!

Jadi, selama ini ternyata saya bukan kekurangan cinta. Saya saja yang tidak pernah menyadarinya. Bahkan saya tenggelam dalam lautan cinta yang begitu murni.

Sekarang pertanyaannya, apa yang telah kita lakukan untuk membalasnya? Kalau saya, (malu nih..) sepertinya masih sering menyakiti orang lain. Sadar ataupun tidak sadar. Kalaupun tidak sampai menyakiti, rasanya masih sering tidak peduli dengan orang. Apalagi pada Allah... Begitu besarnya cinta Allah pada saya dan saya masih sering menyalahgunakannya. Mata tidak digunakan semestinya... Lisan kejam dan menyayat-nyayat... Waktu yang terbuang sia-sia...

Kalau sudah seperti ini, rasanya iri saya pada semua hal-hal yang berbau “pacaran pra nikah” hilang sudah. Minimal, berkurang drastislah. Siapa bilang saya tidak dicintai? Memang tidak ada yang mengantar-antar saya ke mana-mana, tapi Allah mengawal saya di setiap langkah. Tidak ada candle light dinner, tapi ada sebuah keluarga hangat yang menemani saya tiap makan malam. Tidak ada surat cinta, tapi bukankah Allah selalu memastikan kebutuhan saya terpenuhi? Bukankah itu juga cinta?

Entah cinta yang “resmi” itu akan datang di dunia atau tidak. Tapi ingin rasanya membalas semua cinta yang Allah ridhoi. Tulisan ini bukan untuk curhat nasional. Yah, siapa tahu ada yang senasib dengan saya J Yuk, kita coba sama-sama. Jangan sampai ada cinta halal yang tak terbalas... (ariyanti)

posted by rezki @ 6:31 AM   0 comments
Ia yang Selalu Berbagi Kasih
Publikasi: 07/03/2005 08:26 WIB

The origin of the child is a mother and is a woman. One shows a man what love, sharing and caring its all about

Asal mula seorang anak adalah seorang ibu yang juga merupakan seorang wanita, seseorang yang mengajarkan seorang anak manusia tentang makna kasih sayang, sosok manusia yang senantiasa membagi dan menjaga seluruh kasihnya.

eramuslim - Untaian kalimat yang kubaca dalam sebuah majalah sekitar delapan atau sepuluh tahun yang lalu itu masih terpatri dalam ingatan meskipun aku sudah lupa siapa wanita yang mengucapkannya. Kalimat itu kuanggap penting karena kalimat singkat itu telah mengajarkanku betapa berartinya sosok seorang ibu.

Keberartian sosok seorang ibu juga telah berulang kali digambarkan dalam beberapa buah hadits. Sebuah hadits Muttafaq Alaihi menggambarkan situasi pada saat Asma' binti Abi Bakar R.A menanyakan perihal kedatangan ibunya yang masih musyrik pada masa Rasulullah. Lalu Asma meminta petunjuk kepada Rasulullah seraya berucap, "Ibuku telah datang dengan penuh harapan kepadaku, apakah aku harus menyambung hubungan dengan ibuku itu?"
Beliau menjawab, "Benar sambunglah hubungan dengan ibumu!"

Pada suatu ketika pernah datang kepada Ibnu Abbas R.A seorang laki-laki dengan mengatakan , "Aku telah melamar seorang wanita, tetapi wanita itu menolak untuk menikah denganku. Lalu dia dilamar oleh laki-laki lain dan dia senang untuk menikah dengannya, kemudian aku cemburu dengannya dan membunuh wanita itu. Apakah aku masih dapat bertaubat?" Beliau bertanya, "Apakah ibumu masih hidup?" Dia menjawab, "Tidak!" Selanjutnya beliau mengatakan , "Bertaubatlah kepada Allah Azza wa Jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya semampu kamu!". Atha' bin Yasar berkata, "Hadits ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas" lalu aku menemui Ibnu Abbas dan bertanya kepadanya, "Mengapa engkau menanyakan mengenai hidup ibunya?" Ibnu Abbas pun menjawab, "Sesungguhnya aku tidak mengetahui suatu amalan yang lebih dekat dengan Azza wa Jala selain berbakti kepada ibu" (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad).

Seorang psikoanalis barat bernama Erich Fromm pun tidak melepaskan pembahasan tentang cinta kasih ibu dalam beberapa bagian bukunya. Ia dengan indahnya mengungkapkan bahwa cinta ibu adalah peneguhan tanpa syarat terhadap hidup dan kebutuhan seorang anak. Cinta ibu akan mengajarkan tentang makna pemeliharaan dan tanggung jawab yang tentunya sangat penting bagi kelanjutan hidup dan perkembangan anak. Cinta ibu pulalah yang akan menanamkan rasa syukur pada Tuhan dalam diri setiap anak atas kehidupan yang diterimanya, atas jenis kelaminnya, dan atas kelahirannya di muka bumi. Rasa syukur setiap anak tersebut pada akhirnya akan membuat ia mencintai kehidupan dan bukan hanya berkeinginan untuk tetap hidup.

Ibu seringkali dilambangkan sebagai tanah atau alam, oleh karena itu muncul istilah, mother land atau mother nature. Hal ini terjadi karena ibu adalah sosok yang subur seperti halnya tanah dan alam yang menawarkan kelimpahan susu dan madu. Susu merupakan simbol pemeliharaan dan peneguhan kasih ibu. Sedangkan madu melambangkan kecintaan dan kebahagiaan dalam kehidupan. Banyak ibu yang dapat memberikan susu pada anak-anaknya, namun hanya sedikit yang mampu memberikan madu. Untuk dapat memberikan madu, seorang ibu tidak hanya harus menjadi ibu yang baik, namun harus menjadi sosok pribadi yang penuh kasih sayang. Yakni sosok perempuan yang lebih berbahagia dalam memberi dibandingkan menerima, serta sosok yang betul-betul kukuh berakar pada eksistensinya. Sehingga ia tidak lagi menginginkan apa-apa untuk dirinya sendiri.

Al-Quran juga telah mengingatkan keutamaan ibu dengan menggambarkan penderitaan yang dirasakannya dalam dua periode kehidupan (mengandung dan menyusui).

"Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku kamu kembali." (Luqman:14)

Cinta kasih ibu memang sulit untuk dicapai, karena cintanya yang bersifat sangat altruis dan tanpa syarat. Cinta dalam keadaan di mana satu pihak memerlukan segala bantuan dan pihak lainnya memberikan segalanya. Namun ketulusan dan kesabaran ibu dalam mencintai semua anak-anaknya telah membuat cintanya dikategorikan sebagai jenis cinta yang tertinggi dan sebagai suatu ikatan emosional yang paling luhur.

Dan jika saja ada yang bertanya apakah yang ingin kusampaikan pada ibu, mungkin penggalan kalimat dari Gus TF Sakai, seorang penulis dari Sumatera Barat ini dapat sedikit mewakili perasaanku "...Bu kupandang hidup ini dari segala sesutu yang pernah kudengar dari mulutmu. Kuterjemahkan ia dalam langkahku, dan kususun dalam baris-baris kalimat di mana aku belajar memahami sesuatu. Sesuatu yang harus kutemui dan yang bisa mengantarkanku, bukankah begitu?..."

posted by rezki @ 6:22 AM   0 comments
Bila Al Qur'an bisa bicara !

Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku
Dengan wudu' aku kau sentuh dalam keadaan suci
Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari
Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra

Sekarang engkau telah dewasa...
Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku...
Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah?...
Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu

Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?

Sekarang aku engkau simpan rapi sekali

hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya

Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu
Kadangkala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa

Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan

Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian

Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.


Dulu...pagi-pagi...surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman
Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau.....


Sekarang... pagi-pagi sambil minum kopi...

Engkau baca koran pagi atau nonton berita TV
Waktu senggang...engkau sempatkan membaca buku karangan manusia

Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.
Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan...


Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surahku (Basmalah)
Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi
Tidak ada kaset yang berisi ayat Allah yang terdapat padaku di laci mobilmu
Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu
Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku


Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja
Di komputermu pun kau putar musik favoritmu
Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun
E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan
Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu


Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku
Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV
Menonton pertandingan Liga Italia, musik atau Film dan Sinetron laga
Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk
Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah


Waktupun cepat berlalu...aku menjadi semakin kusam dalam lemari
Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu
Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali
Itupun hanya beberapa lembar dariku
Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu
Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.


Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan ?

Bila engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba

Engkau akan diperiksa oleh para malaikat suruhanNya

Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya.


Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu...
Setiap saat berlalu...kuranglah jatah umurmu...
Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu..
Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.


Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati...
Di kuburmu nanti....
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan
Yang akan membantu engkau membela diri
Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu

Dari perjalanan di alam akhirat
Tapi Akulah "Qur'an" kitab sucimu
Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu


Peganglah aku lagi .... bacalah kembali aku setiap hari
Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci
Yang berasal dari Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui

Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.


Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu...
Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu
Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu
Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu


Sentuhilah aku kembali...
Baca dan pelajari lagi aku....
Setiap datangnya pagi dan sore hari
Seperti dulu....dulu sekali...
Waktu engkau masih kecil, lugu dan polos...
Di surau kecil kampungmu yang damai
Jangan aku engkau biarkan sendiri....
Dalam bisu dan sepi....
Mahabenar Allah, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

posted by rezki @ 6:19 AM   0 comments
Bukan Bidadari Dalam Pasungan
Publikasi: 16/04/2004 12:50 WIB

eramuslim - Hari itu muncul sebuah e-mail di sebuah milis yang kuikuti. Berita pernikahan seorang alumni. Sebuah artikel singkat menyertai, kisah tentang istri yang dilarang suaminya keluar rumah, sampai ketika orang tuanya sakit dan akhirnya meninggal tidak menjenguk orang tuanya tersebut.
Sebenarnya kisah itu sudah lama kudengar. Namun entahlah, saat membaca kembali kisah itu, membangkitkan "ketakutanku". Akankah suamiku kelak berpedoman pada kisah ini lantas melarangku untuk sering mengunjungi orang tuaku? Akankah suamiku kelak dengan dalih istri harus ta'at pada suami lalu menjegal mimpi-mimpiku? Akankah dengan otoritasnya dia matikan potensiku di ranah publik? Akankah aku dijadikannya bidadari dalam pasungan?
Bukan, bukan aku mengingkari keta'atan seorang istri kepada suami. Tapi lebih pada ketakutan akan sosok suami yang menyalahgunakan wewenangnya.
Ketakutan yang berlebihan? mungkin. Namun membaca dan mendengar banyak kisah kontemporer para bidadari yang (merasa) terpasung menjadikan ketakutan itu terasa wajar. Mau tidak mau takut itu menggundahkan jiwaku, dan gundahku mencoba cari jawab.
Akhirnya, kala melintas sebuah kios koran dan majalah, gundahku terjawab sudah, walau kupikir belum tuntas. Sebuah majalah dengan bahasan utama Kekasihku Pemimpinku, memberi kesadaran kembali (karena sebelumnya pun aku telah memahami hal ini) bahwa kepemimpinan suami bukan rezim, bahwa aplikasi kepemimpinan tidak semata perintah dan larangan namun keteladanan.
Lembar-lembar bahasannya seakan menenangkanku agar aku tidak perlu takut, karena suami sebagai pemimpin dalam rumah tangga bukan bermakna sebagai pemegang otoritas yang boleh bersikap otoriter. Di situ DR Idris Abdu Somad, Sekjen Ikatan Da'i Indonesia (IKADI) berujar, "Seorang suami yang memiliki istri dengan potensi sosial atau potensi politik, jangan lantas membatasi istrinya dengan hanya memposisikannya dalam basis rumah tangga saja".
Aku sedikit lega..
Tapi aku tahu, kelegaanku akan diuji dan dibuktikan kala hari seseorang menjabat tangan ayahku dan menjawab ijab yang ayah ucapkan. Maka kala itulah gundahku terjawab tuntas.
Biarlah sekarang lebih kudahulukan bekalan-bekalan menjadi istri sholihah. Sementara bagaimana pemimpin rumah tangga yang baik, tetap kuketahui sebagai ilmu.
Teringat ucapan seorang ustadz, "para lelaki sibuk membaca apa saja hak suami, bagaimana istri yang baik dan ideal. Sedangkan perempuan sibuk dengan bacaan tentang hak istri serta kriteria suami baik dan ideal. Lantas ketika keduanya bertemu dalam bahtera rumah tangga, harapan yang terlanjur dibuat tinggi berbenturan dengan realita yang mungkin tidak seindah yang pernah dibaca. Bukan tidak boleh membaca itu semua, namun hendaklah proporsional dan seimbang. Justru dahulukan ilmu tentang kewajiban dan bagaimana menjadi pasangan yang baik dan tepat. Agar menjadi cermin untuk diri kita sendiri"
Walau tak bisa ku nafikkan, sedikit asa terbit di jiwa, mudah-mudahan beliau yang berjabat tangan dengan ayah kelak pernah membaca majalah tadi dan kelak mengamalkan, sehingga aku tidak akan pernah menjadi bidadari dalam pasungan :)
posted by rezki @ 6:10 AM   0 comments
Biar Cinta itu Bermuara Dengan Sendirinya....
Publikasi: 08/12/2003 10:51 WIB

Kenapa tak pernah kau tambatkan perahumu di satu dermaga?
Padahal kulihat, bukan hanya satu pelabuhan tenang yang mau menerima kehadiran kapalmu!
Kalau dulu memang pernah ada satu pelabuhan kecil, yang kemudian harus kau lupakan,
mengapa tak kau cari pelabuhan lain, yang akan memberikan rasa damai yang lebih?
Seandainya kau mau, buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu,
pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya, hingga pelabuhan itu jadi rumahmu,
rumah dan pelabuhan hatimu.
( Judul Puisi " Pelabuhan " karya Tyas Tatanka, kumpulan puisi 7 penyair serang)
eramulsim - Matanya berkaca-kaca ketika perempuan itu selesai membaca dan merenungi isi puisi itu. Dulu sekali perempuan itu telah pernah berharap pada seorang laki-laki yang dia yakin baik dan hanif, ada kilasan - kilasan di hatinya yang mengatakan bahwa mungkin dialah sosok yang selama ini dicari.. dialah sosok yang tepat untuk mengisi hari harinya kelak dalam bingkai pernikahan.
Berawal dari sebuah pertemanan. Berdiskusi tentang segala hal, terutama masalah agama. Perempuan itu sedang berproses untuk mendalami agama Islam dengan lebih intens. Dan laki-laki itu, dia paham agama, aktif diorganisasi keislaman, dan masih banyak lagi hal - hal positif yang ada dalam diri lelaki itu. Sehingga kedekatan itu membawa semangat perempuan itu untuk terus menggali ilmu agama.dan mempraktekkannya dalam kesehariannya. Kedekatan itu berlanjut menjadi kedekatan yang intens, berbagi cerita , curahan hati, saling meminta saran, saling bertelepon dan bersms, yang akhirnya segala kehadirannya menjadikan suatu kebutuhan. Kesemuanya itu awalnya mengatasnamakan persahabatan.
Suatu hari salah seorang sahabatnya bertanya " Adakah persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan dewasa tanpa melibatkan hati dan perasaan terlebih bila sudah muncul rasa simpati, kagum dan kebutuhan untuk sering berinteraksi?" Perempuan itu tertegun dan hanya bisa menjawab " entahlah.."
Sampai suatu hari, laki-laki itu pergi dan menghilang... Awalnya masih memberi kabar. Selebihnya hilang begitu saja. Dan perempuan itu masih berharap dan menunggu untuk suatu yang tak pasti. Karena memang tidak pernah ada komitmen yang lebih jauh diantara mereka berdua. Setiap dia mengenal sosok lelaki lainnya... Selalu dibandingkan dengan sosok laki-laki sahabatnya itu dan tentulah sosok laki - laki sahabatnya itu yang selalu lebih unggul dibanding yang lain. Dan perempuan itu tidak pernah lagi membuka hatinya untuk yang lain. Sampai suatu hari,..
Perempuan itu menyadari kesia-siaan yang dibuatnya. Ia berharap ke sesuatu yang tak pasti hanyalah akan membawa luka dihati... Bukankah banyak hal yang bermanfaat yang bisa dia lakukan untuk mengisi hidupnya kini.... Air mata nya jatuh perlahan dalam sujud panjangnya dikegelapan malam... Dia berjanji untuk tidak mengisi hari - harinya dengan kesia-siaan.
"Lalu bagaimana dengan sosok laki - laki itu ?? "Perlahan saya bertanya padanya.
"Saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa, yang salah hanyalah persepsi dan harapan yang terlalu berlebihan dari kedekatan itu, dan proses interaksi yang terlalu dekat sehingga timbul gejolak dihati.... Biarlah hal itu menjadi proses pembelajaran dan pendewasaan bagi saya untuk lebih hati - hati dalam menata hati dan melabuhkan hati," ujarnya dengan diplomatis. Hingga saya menemukan perempuan itu kini benar - benar menepati janjinya.
Dunia perempuan itu kini adalah dunia penuh cinta dengan warna-warna jingga, tawa-tawa pelangi , pijar bintang dimata anak anak jalanan yang menjadi anak didiknya.... Cinta yang dialiri ketulusan tanpa pamrih dari sahabat-sahabat di komunitasnya yang menjadikan perempuan itu produktif dan bisa menghasilkan karya...cinta yang tidak pernah kenal surut dari kedua orang tua dan keluarganya... Dan yang paling hakiki adalah cinta nya pada Illahi yang selalu mengisi relung-relung hati..tempatnya bermunajat disaat suka dan duka... Indahnya hidup dikelilingi dengan cinta yang pasti.
Adakalanya kita begitu yakin bahwa kehadiran seseorang akan memberi sejuta makna bagi isi jiwa. Sehingga.... saat seseorang itu pun hilang begitu saja... Masih ada setangkup harapan agar dia kembali....Walaupun ada kata-katanya yang menyakitkan hati.... akan selalu ada beribu kata maaf untuknya.... Masih ada beribu penantian walau tak pasti... Masih ada segumpal keyakinan bahwa dialah jodoh yang dicari sehingga menutup pintu hati dan sanubari untuk yang lain. Sementara dia yang jauh disana mungkin sama sekali tak pernah memikirkannya. Haruskah mengorbankan diri demi hal yang sia-sia??
Masih ada sejuta asa.... Masih ada sejuta makna.....Masih ada pijar bintang dan mentari yang akan selalu bercahaya dilubuk jiwa dengan menjadi bermakna dan bermanfaat bagi sesama....
"Lalu... bagaimana dengan cinta yang dulu pernah ada?? '' tanya saya suatu hari.
Perempuan itu berujar, " Biarkan cinta itu bermuara dengan sendirinya... disaat yang tepat... dengan seseorang yang tepat.... dan pilihan yang tepat......hanya dari Allah Swt. disaat dihalalkannya dua manusia untuk bersatu dalam ikatatan pernikahan yang barokah.."
Semoga saja akan demikian adanya...
Untuk seorang sahabat.yang tengah meniti masa transisi
posted by rezki @ 6:07 AM   0 comments
Bersahabat Selamanya
Publikasi: 27/06/2003 09:27 WIB

eramuslim - Sewaktu masih kanak-kanak, setiap selesai shalat shubuh berjamaah di masjid, aku dan saudara-saudaraku sering melakukan jalan-jalan pagi. Hanya di waktu pagilah udara di kota Jakarta masih bisa dikatakan bersih, karena belum banyak kendaraan yang lalu lalang, dan matahari bahkan belum memperlihatkan cahayanya serta debu-debupun belum banyak beterbangan. Di sebuah kantor polisi kecamatan kecil yang berada di tikungan perempatan patung Pancoran, aku selalu memperlambat langkahku karena daerah itu adalah daerah yang aku sukai. Kenapa? Karena di situ, di sepanjang pagar kantor polisi itu ditanam berjajar pohon kemuning. Setiap pagi, wangi bunga kemuning dari jajaran rumpun pepohonan itu menyapa ramah hidung dan menambah perasaan damai. Lupa dengan jajaran gedung bertingkat yang ada di sekitarnya, atau jajaran warung kaki lima yang masih tampak tertutup dengan sangat tidak rapih, aku selalu membayangkan sedang berjalan di taman bunga. Hmm… Subhanallah, wangi sekali. Menerbitkan sebuah cita-cita kanak-kanak, bahwa kelak jika sudah menikah dan punya rumah sendiri, aku akan menanam rumpun pohon kemuning di sepanjang pagar rumahku.


Sekarang, ketika aku sudah memiliki keluarga sendiri, juga rumah sendiri. Setiap pagi sebelum berangkat ke masjid untuk shalat shubuh, aku selalu memuaskan hidungku untuk menghirup wangi kemuning yang rumpun pohonnya aku tanam di halaman rumahku yang mungil. Yup, alhamdulillah mimpi kanak-kanakku telah terwujud.
Ada serumpun pohon kemuning di halaman depan rumahku. Setelah puas menghirup wangi bunganya yang seperti wangi sedap malam hanya lebih halus sedikit, berdua dengan suamiku kami bergegas menuju masjid saban shubuh.

***

Masjid di dekat rumahku itu jaraknya lumayan jauh sebenarnya. Tapi jarak jauh itu tidak terasa jauh karena aku dan suamiku sangat menikmatinya berdua sebagai waktu khusus untuk berkomunikasi lebih akrab di banding waktu yang lain, lepas dari masalah kerutinan pekerjaan kantor atau rumah tangga, lepas dari masalah hubungan dengan rekan kerja atau tetangga atau keluarga bahkan anak-anak sekalipun. Tidak harus dengan untaian kata-kata, karena komunikasi tidak selamanya berbentuk untaian kalimat. Itu sebabnya perjalanan jauh menuju masjid favorit itu sangat kami nikmati. Masjidnya sendiri, adalah masjid sederhana yang tidak terlalu besar. Biasanya, anggota jamaah yang melakukan shalat shubuh di masjid tersebut selalu bisa dihitung dengan jari, karena yang datang memang orangnya itu-itu saja setiap pagi, termasuk di dalamnya empat orang kakek yang bersahabat akrab.

Sejak dua tahun yang lalu, ketika aku pertama kali datang untuk shalat di masjid itu setelah aku tiba di Indonesia dan kembali menetap di negeri ini, aku selalu kagum pada persahabatan keempat kakek-kakek tersebut. Mereka bertemu dalam suasana mesra dan bersenda gurau dengan akrab. Kadang, secara bergantian mereka saling memperhatikan bacaan tilawah temannya, atau diskusi dengan suara pelan sambil membuka buku agama yang terlihat sudah usang dan mulai berwarna tanah. Tapi kadang mereka hanya duduk berkumpul dalam diam mendengarkan suara qori yang mengalun dari radio dan dipancarkan lewat pengeras suara masjid sambil menunggu adzan shubuh bergema. Kebersamaan dan pertemuan itu rasanya sudah memiliki arti yang sangat spesial bagi mereka, bahkan jika pertemuan yang terjadi itu tidak menghasilkan percakapan yang bermutu sekalipun karena semuanya larut dalam diam, tetap saja pertemuan keempat sahabat itu berarti bagi mereka. Karena dengan adanya kesempatan bertemu masing-masing tahu bahwa semuanya masih dikaruniai nikmat sehat dan hidup sampai hari pertemuan itu.

Dua tahun berlalu sudah hari ini. Kini, keempat sahabat itu hanya tersisa dua orang. Dua orang rekan mereka telah mendahului rekan lainnya pergi menghadap sang Khalik. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kakek itu tinggal berdua kini. Berdua mereka saling membantu karena usia tua telah mencabut beberapa kenikmatan yang dimiliki oleh mereka yang berusia muda. Jalan yang tidak lagi gagah, punggung yang membungkuk, lutut yang gemetar menahan berat tubuh, telinga yang tidak lagi bisa mendengar dengan jelas serta mata yang mulai tidak awas. Meski semua kenikmatan usia muda sudah semakin berkurang mereka miliki, keduanya tampak tetap saling membantu satu sama lain (atau bahkan kian akrab dan mesra?). Aku sering terharu melihat keakraban dan kemesraan kedua orang kakek yang kini tinggal bersahabat berdua.

***

Pagi ini, setelah hampir sebulan lamanya aku tidak pernah datang ke masjid itu karena masalah kesehatan yang terganggu, aku datang lagi dan mendapati kakek tua itu tampak seorang diri. Sendiri termenung mendengarkan kaset murattal yang diperdengarkan melalui pengeras masjid. Dari seorang nenek yang ada di sampingku, aku mendapat kabar bahwa sahabat terakhirnya telah meninggal dua minggu yang lalu. Aku sedih membayangkan perasaan kehilangan kakek itu. Tentu sangat menyedihkan kehilangan sahabat yang kita sayangi. Setelah merasakan kedekatan bertahun lamanya bersama, berbagi suka dan duka bersama, melihat kepergian orang yang kita cintai adalah sesuatu yang sangat berat terasa di dada dan sangat menyedihkan perasaan. Tanpa sadar aku menatap kakek yang duduk menyendiri di sudut masjid seorang diri itu hingga sebuah sentuhan halus dan hangat terasa menyentuh pergelangan tanganku.

“Senang sekali bertemu denganmu lagi.” Seorang nenek tampak dengan cepat mengucapkan kalimat pendek padaku sebelum dia konsentrasi melakukan wiridnya. Barulah setelah dengan wiridnya, ketika hikmah kehidupan singkat dibicarakan oleh ustad masjid, si nenek menghampiri aku sekali lagi. Aku sedang bersiap-siap untuk segera pulang. Kali inipun, dia memegang pergelangan tanganku erat sekali setelah aku menyalaminya untuk pamit pulang.

“Nak? Kemana saja selama sebulan ini tidak terlihat?” Suara tuanya tampak terdengar bergetar di telingaku, tapi sangat sarat dengan perasaan hangat dan akrab.

“Sakit bu, jadi saya shalat di rumah.” Aku menjawabnya sambil tersenyum dan mulai bersiap untuk berdiri tapi si nenek tampak enggan melepas pergelangan tanganku.

“Sehat selalu yah Nak, demi Allah, ibu menyayangi kamu karena Allah dan selalu senang jika kita bisa bertemu lagi.“ Dug. Hatiku langsung tercekat mendengar untaian kalimatnya. Perasaan haru terasa mulai menyirami rongga dadaku. Tidak sekalipun aku ingat pada nenek tua ini, bahkan mungkin selama ini aku tidak pernah memperhatikan kehadirannya di dekatku, tapi ternyata dia menyayangiku dengan sangat tulus. Padahal kami tidak pernah kenal sebelumnya bahkan kami memang tidak pernah bercakap-cakap sebelumnya selain ucapan saling memberi salam dan melempar senyum saja. Hmm, diam-diam aku mulai merasakan hangatnya suasana persahabatan diantara kami. Cepat kuhapus air mata haru yang ingin meloncat keluar (malu ah, ketahuan cengengnya). Kujabat erat tangan nenek tua itu sebelum aku benar-benar beranjak berdiri untuk pulang. Kali ini, rasanya aku yang enggan kehilangan genggaman hangat tangannya di pergelangan tanganku.

“Terima kasih yah bu atas perhatiannya. Semoga Allah membalas ketulusan ibu. Semoga Allah melimpahi ibu dengan rahmatNya selalu. Saya pamit yah.” Si nenek mengangguk dengan pandangan sayang padaku. Aku tersenyum padanya dan dia masih tetap memandangku.

“Assalamu’alaikum...” Akhirnya sebelum benar-benar berlalu, kudaratkan sebuah kecupan sayang di pipi tuanya dan segera berlalu karena melihat bola matanya yang mulai berkaca-kaca. Suamiku sudah menunggu di halaman masjid dan aku tidak ingin membiarkannya berteman seorang diri dengan angin shubuh yang dingin Sebelum benar-benar meninggalkan masjid, kulirik kakek tua yang sebelum shalat shubuh tadi tampak menyendiri di sudut masjid. Dia kini ditemani oleh teman baru yang sama tuanya dan seorang pemuda yang tampak sangat menghormati mereka dengan semangat untuk belajar ilmu agama yang kental yang memancar dari wajahnya yang bening. Aku tersenyum.

Sungguh. Nikmat persahabatan mereka kini bisa ikut kurasakan. Subhanallah begitu nikmat kehangatan dan kemesraannya. Kueratkan rengkuhan tanganku di lengan suamiku. Dia sahabat sekaligus kekasih hatiku. Semoga kami selalu dinaungi nikmat persahabatan islamiyah selamanya. Aamiin.

posted by rezki @ 6:03 AM   0 comments
Berbagi Cinta
Publikasi: 09/03/2005 10:29 WIB

eramuslim - Beberapa waktu yang lalu saya melakukan perjalanan bersama seorang teman. Di sela-sela perjalanan, handphone teman saya selalu berdering. "Dari bokap. Nanyain, apakah saya baik-baik di perjalanan?" jelas teman saya seusai menerima telepon. Lalu usai dering yang lain dia berkata, "dari kakak saya. Dia berpesan agar hati-hati." Juga, "dari adik, suruh berkabar bila sudah sampai tempat tujuan. Dia minta oleh-oleh daster batik." Setiap usai menerima telepon, saya melihat wajah teman saya berbinar. Saya meraba-raba handphone di saku, memeriksa kalau-kalau ada pesan yang masuk dari keluarga saya. Dan, saya tersenyum kecut ketika tidak ada pesan apa-apa di sana.

Di lain waktu, seorang teman yang lain membuat saya terpana. Setiap malam sepulang dia bekerja, handphonenya selalu berdering. Dengan manja dia menjawab telepon, "Assalamu'alaikum ibu, saya baru pulang dari kantor. Saya baik-baik saja. Pekerjaan hari ini sungguh melelahkan. Saya meeting dengan kepala cabang. Tahu nggak Bu, saya paling muda dan satu-satunya perempuan dalam meeting itu. Em, tadi saya sudah makan di kantor kok...bla bla bla..."

Setiap melihat kehangatan dan perhatian seperti itu, diam-diam saya menyimpan rasa iri. Perasaan iri yang membawa saya pada suasana di mana saya merasa sendiri, sepi, dan sebatang kara di belantara Jakarta.
Kesedihan saya pun bertambah-tambah. Hingga satu ketika saya jatuh sakit. Pemilik kost dan teman-teman merawat saya dengan perhatian dan cinta. Saya teringat tokoh dua generasi dalam film 'Finding Forester' yang rena persahabatannya kemudian merasa sedarah meski bukan keluarga sedarah. Tiba-tiba, saya merasa malu telah menanam rasa iri. Bahkan ketika terkadang menggugat Allah, kenapa saya tak mendapatkan perhatian dan cinta seperti teman-teman saya? Astaghfirullah... Rasa malu itu kemudian membuka benak saya untuk mengingat berbagai kejadian yang kemudian menyadarkan saya dari hari-hari yang menuntut dan menggugat. Bahwa sebenarnya cinta dan perhatian itu ada.

Cinta itu ada pada wanita paruh baya bersama suami dan ketiga anaknya di salah satu sudut kota Yogya. Cinta yang membuat saya selalu ingin kembali berkunjung, dan merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka tak ubahnya keluarga saya sendiri. Cinta yang membuat saya belajar akan indahnya ketulusan dan kesederhanaan.

Cinta itu ada pada sepasang sahabat yang baru saja dikaruniai bayi mungil. Cinta yang membuat saya berani menaruh sebagian beban jiwa saya padanya. Cinta yang membuat perasaan saya menghangat ketika mereka
bertanya, "Bagaimana kabarmu hari ini? Mainlah ke rumah, aku masak makanan kesukaanmu lho!" Atau kalau saya sedang travelling mereka mengirim pesan, "Nimatilah perjalananmu tapi cepatlah pulang. Kami merindukanmu."

Cinta itu ada pada seorang wanita tua yang telah kehilangan anak-anaknya. Cinta yang membuat saya percaya bahwa pilihan hidup saya sama berharganya dengan pilihan orang lain. Cinta yang membuat bibir saya mengulum senyum karena setiap berangkat atau pulang dari perjalanan wanita tua itu selalu mencium kedua pipi dan kening saya penuh kasih.

Cinta itu ada pada teman-teman di berbagai kota. Teman yang dengan ikhlas menyediakan tempat singgah bagi saya selama travelling, menjemput dan mengantarkan kepergian saya, juga mengajari makna hidup yang sesungguhnya pada saya. Cinta yang membuat langkah saya berat ketika berpamitan untuk meninggalkan mereka.

Cinta itu ada pada email-email di mailbox, sms di handphone dari orang-orang yang tak pernah saya kenali wajahnya. Cinta yang membuat mereka meluangkan waktu untuk membaca, mengkritik dan mengomentari coretan-coretan saya, menyemangati saya untuk terus berjuang, maju, belajar dan tak lupa berdoa.

Cinta itu ada pada sahabat-sahabat yang membawa saya pada pintu hidayah, pencerahan-pencerahan, mengingatkan ketika tersesat dan menopang saya ketika hampir terjatuh. Cinta yang membuat saya menemukan jalan Allah.

Ternyata...begitu banyak cinta dan perhatian untuk saya sebagai wujud dari cinta-Nya. Bahkan saya tidak dapat menghitungnya dengan kalkulator merek terbagus sekalipun. Tapi, sudahkah saya sendiri berbagi cinta kepada orang lain? Keluarga, teman-teman, anak-anak yatim piatu, orang-orang di pengungsian, gelandangan-gelandangan di jalan dan...orang-orang yang juga memerlukan cinta dan perhatian? Sampai di situ saya tercenung dan sangat malu. Saya hanya pandai menuntut serta menggugat makhluk bahkan Allah untuk selalu memberikan cinta dan perhatiannya pada saya. Sementara saya sendiri belum melakukan apa-apa.

Bukankah semua kebaikan yang kita lakukan pada orang lain, sesungguhnya akan kembali pada diri kita? Di sanalah Allah menunjukkan cinta dan kebesaran-Nya. Subhanallah...akhirnya perenungan itu membawa saya tersungkur dalam sujud panjang dan kesimpulan. Bahwa dengan membagi cinta dan perhatian pada orang lain, kita akan menemukan kesejatian cinta-Nya.

***

posted by rezki @ 5:48 AM   0 comments
Benarkah?
Salju Telah Turun Di Dataran Arab Sebagai Salah Satu Tanda
Datangnya Hari Kiamat Sebagimana diberitakan oleh TV Arab
Saudi dan diberitakan kembali oleh Nuansa Pagi RCTI -
Indonesia (Selasa, 15 Januari 2002), bahwa pada Hari
Minggu, tanggal 13 January 2002, di Arab Saudi yang merupakan
daerah gurun pasir yang sangat panas dimana matahari bersinar
sepanjang hari,telah terjadi suatu fenomena alam yang pelik,
yaitu dengan turunnya salji dengan lebatnya. Tepatnya di darah
Tabuk 1500 km dari Riyad(Ibukota Arab Saudi)ketebalan salji
mencapai 20 cm, dan di Yordania suhu mencapi titik beku
(0 derajat celcius). Ternyata tahun-tahun terakhir ini di
Jazirah Arab yang notabenenya gurus pasir panas, turunnya salju
ini telah sering terjadi,tetapi hal ini ditutup-tutupi atau
tidak dipublikasikan secara luas.Ada apa gerangan dengan
terjadinya fenomena alam tersebut? Bagi umat Islam yang telah
memahami ajaran Islam, turunnya salji di arab saudi ini bukan
merupakan hal yang aneh, karana hal ini telah diterangkan oleh
Nabi Muhammad SAW 1400 tahun yang lalu. Ketika para sahabat
menanyakan kepada Rasulallah SAW mengenai kapan datangnya hari
kiamat.
Rasulallah SAW menjawab, bahwa pengetahuan mengenai datangnya
hari kiamat hanya ada pada sisi Allah SWT. Tetapi Allah SWT
telah memberitahukan tanda-tandanya kepada Rasulallah SAW,
antara lain sebagaimana diterangkan dalam salah satu hadis
Rasulallah SAW: "Hari Akhir tidak akan datang kepada kita
sampai dataran Arab sekali lagi menjadi dataran berpadang
rumput dan dipenuhi dengan sungai-sungai(HR Muslim)". Dari
Hadist Rasulallah SAW di atas ada beberapa informasi yang
didapat:
1. Informasi datangnya hari akhir kiamat
2. Dahulu kala dataran / jazirah Arab pernah menjadi padang
rumpur Yang subur dan dipenuhi dengan sungai-sungai
3. Nanti, dataran Arab sekali lagi akan menjadi padang
rumput dan dipenuhi dengan sungai-sungai, sebagai salah
satu tanda datangnya hari kiamat.
Salji turun pertama kali di negara Arab DUBAI: Buat pertama
kali sepanjang ingatan sejarah, salji turun di Emiriah Arab
Bersatu (UAE), negara yang dikelilingi gurun dan
padang pasir.
Pegawai Jabatan Kaji Cuaca Dubai semalam menyatakan, salju
meliputi pergunungan al-Jees di Ras al-Khaimah, kawasan yang
terletak di negeri paling utara di UAE. Akhbar berbahasa
Inggris, Gulf News melaporkan,kawasan pergunungan yang
terletak 1,737 meter dari paras laut itu menyaksikan salju
turun pada malam hari sejak dua hari lalu berikutan cuaca
sejuk sehingga mencecah suhu serendah -5 darjah Celsius dan
mengejutkan ramai penduduk negara ini.
Kawasan pergunungan itu bermula di UAE sehingga ke Oman dan
tempat tertinggi di sesetengah tempat mencecah 2,500 hingga
3,000 meter.
Isnin lalu, hujan lebat berukuran 12.6 milimeter berlaku di
kawasan gurun
Dubai, satu daerah yang jarang sekali menerima
hujan. Malah, polis melaporkan 500 kemalangan jalan raya
berlaku dalam tempoh 24 jam, termasuk satu nahas maut yang
berpuncak daripada hujan lebat selama tiga hari berturut-
turut. Cuaca sejuk turut menyelubungi negara itu minggu ini
dengan suhu turun mendadak kepada 12 derajat Celsius di Dubai,
malam kemarin. Kenyataan Jabatan Kaji Cuaca itu bagaimanapun
berkata, cuaca sejuk di
Dubai yang sebelum ini suhu musim
panasnya mencecah 50 darjah Celsius, akan berakhir minggu
depan. UAE adalah antara tempat pelancongan popular, terutama

kota
Dubai di mana kebanyakan pelawat adalah dari negara
sejuk yang datang untuk menikmati cuaca panasnya.
AFP/Reuters.
Apa kaitannya dengan Hadith ini:
Daripada Abu Hurairah r.a. berkata:
Bersabda Rasulullah saw.; "Tidak akan terjadi qiamat
sehinggalah Tanah Arab (yang tandus itu) menjadi lembah yang
subur dan dialiri sungai-sungai".
H.R.Muslim
posted by rezki @ 5:30 AM   0 comments
Polling: Mayoritas Bangsa Eropa Benci Terhadap Keberadaan Warga Muslim

assalaamualaikum

Publikasi: 20/12/2004 09:53 WIB

eramuslim - Sebagian besar masyarakat negara-negara Eropa, ternyata
belum bisa menerima keberadaan warga Muslim di lingkungannya. Mereka
bahkan cenderung tidak setuju terhadap kehadiran warga Muslim di
tengah-tengah mereka. Hal ini terungkap dari hasil survey yang
dilakukan oleh sebuah institut riset di Jerman, GfK Worldwide dan The
Wall Street Journal yang dirilis hari Minggu (19/12).

Survey melibatkan sekitar 1.000 responden di 19 negara Eropa. Survey
dilakukan untuk mengetahui tingkat penerima masyarakat Eropa terhadap
warga Muslim setelah peristiwa serangan 11 September dan kasus
ledakan bom di Madrid, Spanyol.

Dari seluruh responden di negara Eropa yang disurvey, 52 persennya
menyatakan tidak menyukai keberadaan warga Muslim yang jumlahnya saat
ini mencapai 3 juta jiwa dan tersebar di berbagai belahan negara-
negara Eropa. Swedia, Belanda dan Denmark menjadi negara yang
prosentase tingkat penolakan masyarakatnya terhadap kehadiran warga
Muslim paling tinggi, masing-masing 75, 72 dan 67 persen. Sedangkan
Inggris, menjadi salah satu negara Eropa yang cukup toleran terhadap
keberadaan warga Muslim. Dari sejumlah responden asal negara itu,
hanya 39 persen yang meyakini adanya penolakan yang besar terhadap
warga Muslim.

Deputi Direktur Islamic Foundation yang berbasis di Leicester,
Chowdury Mueen-Uddin menyatakan, keberadaan komunitas Islam di
Inggris lebih bisa diterima dari pada dinegara-negara Eropa
lainnya. "Kami merasa diperlakukan lebih baik disini daripada di
tempat lainnya, secara umum, masyarakat Inggris lebih fair dibanding
masyakat negara-negara Eropa yang lain, ujar Mueen-Uddin.

Kehidupan warga Muslim di Inggris memang lebih dinamis. Pada bulan
November kemarin, warga Muslim dari kota-kota besar di Inggris
melakukan Pekan Peduli Islam yang ke-10. Acara itu diisi dengan aneka
kegiatan dan seminar-seminar yang mengangkat tema tentang peranan
warga Muslim ditengah-tengah masyarakat Inggris.

Selain itu, jumlah warga Inggris yang masuk Islam pun cukup banyak
dan berasal dari kalangan elit Inggris. contohnya adalah tokoh
Jonathan Birt, putera pasangan bangsawan Lord Birt dan Emma Clark
yang juga cucu dari mantan Perdana Menteri kelompok liberal, Herbert
Asquith. Jonathan Birt, adalah salah satu dari 14 ribu kalangan elit
kulit putih di Inggris yang memilih masuk Islam.

Sementara di negara-negara Eropa lainnya seperti Perancis, warga
Muslim masih mengalami diskriminasi yang menyolok. Misalnya larangan
mengenakan jilbab di sekolah-sekolah umum. Mueen-Uddin juga menyoroti
kebijakan pemerintah Jerman terhadap warga Muslim Turki. Pemerintah
Jerman masih menganggap warga Muslim Turki sebagai tenaga kerja
pendatang meski mereka sudah hidup di Jerman selama lebih dari 30
tahun. Warga Muslim Turki juga dilarang untuk berbaur dengan
komunitas bangsa Jerman.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Pusat Studi Turki di wilayah Rhein
tahun 2004 ini menunjukkan, dari 2,1 juta jumlah Muslim Turki di
Jerman, 80 persen diantaranya masih merasa dianggap sebagai warga
kelas dua. Angka ini meningkat dibandingkan lima tahun lalu, dimana
hanya 65 persen saja dari seluruh jumlah warga Turki di Jerman, yang
merasa diperlakukan sebagai warga kelas dua.

Mengomentari hasil studi yang dilakukan GfK Worldwide dan The Wall
Street Journal, Mueen-Uddin mengatakan hasil studi itu sangat
mengkhawatirkan.

"Siapapun yang memiliki pemikiran tentang masyarakat yang damai akan
merasa prihatin dengan temuan ini. Sebagai Muslim, saya khawatir
Eropa sedang mengubah sikap anti semitnya dengan penyakit lainnya
yaitu Islamophia," papar Mueen.

"Tidak ada hal yang lebih buruk dari pada perasaan bahwa anda tidak
dipercaya atau dipandang dengan sinar mata curiga oleh lingkungan dan
warga sekitar kita," tambahnya.

Mark Hofmans dari GfK Worldwide juga mengungkapkan keprihatinan yang
sama. Ia mengatakan perlakuan terhadap warga Muslim ternyata lebih
buruk dari apa kami perkiraan semula, dan sudah menyebar luas. Kantor
Liga Arab yang berada di Belgia dan Netherland, sudah lebih dulu
mengungkapkan keprihatinannya soal gelombang Islamophobia dan
Xenophobia di kedua negara itu.

"Islamophobia, sama halnya dengan anti semit, dalam kaitannya dengan
sikap masyarakat Eropa, jelas terlihat bahwa negara-negara Eropa
tidak mempelajari sejarahny," ungkap Hofmans di situsnya. Sementara
itu, Alima Bourmediene Thiery, warga Muslim Inggris yang menjadi
anggota legislatif mengungkapkan, pandangan yang salah terhadap
Muslim menjadi kendala utama upaya integrasi secarapenuh warga Muslim
kedalam masyarakat Perancis.(ln/iol)
posted by rezki @ 5:27 AM   0 comments
Impian Arini
Publikasi: 11/09/2002 08:39 WIB

eramuslim - Sebelumnya tak pernah terpikirkan olehnya untuk menggunakan kudung menutupi kepalanya. Jangankan untuk berkerudung, mendekat dengan mereka yang anggun berbusana muslimah pun tak pernah dilakukannya. Namun pertemuannya dengan teh Asih, istri kang Nirwan tetangga barunya membuatnya berbeda, terlebih setelah tetangga barunya itu menghadiahinya sebuah jilbab. Kini, meski malu-malu ia sudah mulai menutupi bagian atas tubuhnya dengan jilbab, plus baju gamis barunya. Anggun.

Namanya Arini, sejak masih di SMU terkenal tomboy. Orang akan menyangka ia memakai rok setiap berangkat ke sekolah. Padahal tidak, roknya lebih pas disebut celana kedombrongan sebatas lutut yang terlihat seperti rok kebanyakan siswi sekolah lainnya. Rambutnya yang dipangkas habis gaya pria membuat orang lain sering salah memanggilnya, “mas …” Tidak seperti kebanyakan perempuan, ia berbicara lantang, ceplas-ceplos tak sedikitpun kesan kemayu, termasuk lagak dan cara berjalannya.

Selepas SMU dan mulai memasuki dunia kampus. Tomboynya makin menjadi. “Gue bebas berekspresi, selamat tinggal putih abu-abu,” teriaknya suatu ketika. Tidak ada yang berubah, rambutnya tetap pendek. Oblong, celana jeans-nya plus jaket belelnya tak ketinggalan. Arini juga tak beranting. Dan … semakin banyak yang salah memanggilnya, “mas …” Mungkin status keperempuanannya hanya terlihat di dua hal, pas ke toilet dan kalau sedang sholat (biar tomboy juga sholat lho…).

Nah, pas ke toilet kampus inilah ia sering menjumpai teman-teman jilbabernya. Mereka cantik … pikir Arini. Tidak di kampus, tidak di Mal atau dimana tempat ia sering menjumpai orang-orang berjilbab, menurutnya semua punya gaya yang sama dan sangat khas. Jilbab panjang sampai sepaha, baju panjang yang hampir menutup semua tubuhnya. Cara berjalan yang juga hampir tak ada bedanya. “Satu-dua sih beda. Ada yang gesit seperti dikejar anjing, ada juga yang santai. Tapi semuanya rata-rata berjalan dengan menundukkan kepala,” ingatnya.

Kebetulan di sebelah rumahnya ada tetangga baru yang ngontrak. Keluarga muda yang belum memiliki anak. Arini berkenalan dengan mereka. Itupun karena ibu muda itu dengan ramah menegur terlebih dulu setiap orang yang tinggal di daerahnya, termasuk Arini. Namanya, Asih, Arini memanggilnya, teh Asih. Suaminya yang lumayan cool tak berjenggot itu, kang Nirwan. Awalnya Arini mengira keramahan itu hal biasa yang dilakukan layaknya pendatang baru. Tapi ternyata tidak. Dua bulan dua minggu sudah ia bertetanggaan dengan keluarga itu, teh Asih dan kang Nirwan tetap ramah, malah semakin akrab dengan semua, juga Arini.

teh, akhwat itu apa sih …” Arini menanyakan hal tersebut kepada teh Asih karena ia sering mendengarnya dalam interaksi beberapa kelompok di kampusnya. Setelah dijelaskan panjang lebar, Arini menambahkan pertanyaannya, “Kalau saya ..., akhwat apa bukan?” Terus pertanyaan demi pertanyaan mengalir seputar kosa kata yang ditelinganya akrab terdengar namun terasa asing, seperti ikhwan, ana, antum, akhi, ukhti de el el.

Arini memang serba bingung, teh Asih menjelaskan panjang lebar tentang definisi kata-kata yang ditanyakannya. Namun pada kenyataannya tak satupun akhi berjenggot dengan kehitaman dikeningnya, juga ukhti berkudung panjang yang menyapanya dengan sebutan ukhti dan melabelinya akhwat. Untuk sementara ia berasumsi, sebutan itu hanya berlaku dikalangan mereka. Tidak untuk dirinya yang plontos tak berkudung, polos tak bergamis. Apalagi sikapnya yang masih teplak teplok terhadap lawan jenis dan tegur sapanya yang gue-elo.

Pernah Arini diundang ke pengajian di kampusnya, dan ia mencoba untuk berkerudung. Ia tak punya jilbab yang panjang seperti yang biasa dikenakan teman-temannya. Alhasil, jilbab pendek alias bergo milik ibunya yang ia pakai. Sehabis pengajian, Arini bersungut-sungut karena sepanjang pengajian lebih banyak teman senasibnya (yang pakai jilbab hanya sewaktu pengajian) yang menegurnya. Ada sih beberapa, tapi kebanyakan ukhti itu lebih akrab dengan sesama jilbab panjang saja. Cuma salaman, tidak ada peluk cium pipi kiri-kanan seperti yang didapat sesama akhwat ketika datang maupun hendak berpisah. Indah dan sejuk Arini memandangnya, tapi tidak dirasa dihatinya.

Ada kerinduan yang tertanam akan kedamaian menjadi perempuan sebenarnya. Menutup aurat sebagai fitrahnya dan menjaga pandangan serta kemaluannya. Kembali Arini bertanya kepada teh Asih, apakah seorang akhwat boleh bersikap tomboy, boleh ngomong gue-elo, boleh bertegur sapa dengan lawan jenis, boleh bercanda, boleh ke Mal, boleh …. . Yang jelas tertangkap dalam benaknya, teh Asih agak berbeda dengan beberapa ukhti di kampusnya, meski teh Asih juga seorang akhwat. Begitu juga kang Nirwan, yang dengan sopan dan senyum penuh keramahan menegurnya, yang tidak jarang mengajaknya berdiskusi tentang Islam atau apa saja. kang Nirwan tidak kaku, pikir Arini. Meski ia tahu lelaki itu tetap menjaga pandangannya, dan tak sekalipun menyentuhnya.

Arini, dan juga banyak teman kampusnya, bukan tak ingin menjadi akhwat, tapi ia hanya ingin menjadi akhwat seperti teh Asih, juga beberapa ukhti yang cukup hangat tersenyum dan menyapanya. Arini ingin menjadi akhwat bukan sekedar agar tak ada lagi yang menyapa "mas" kepadanya. Hanya saja yang masih menjadi pertanyaan besar dibenaknya, kenapa hanya sebagian kecil yang memandang dirinya seperti yang dilakukan teh Asih …, hanya sebagian dari ukhti itu yang bisa menerimanya sebagai “akhwat” meski jilbabnya tidak sama panjangnya. Wallahu a’lam bishshowaab (Bayu Gautama, seperti diceritakan seorang ‘ukhti’).

posted by rezki @ 5:22 AM   0 comments
Allah apa yng kau lakukan??
Assalamualaikum.....

sebuah cerita yang indah dari seorang teman...

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet. Ibu dengan tersenyum
memandangiku dan berkata dengan lembut:

"Anakku,lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan ibu panggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas.
"Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu Semrawut
menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil, "
Anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. "
Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah,dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet. Kemudian ibu berkata,"Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau,tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan.

Sering selama bertahun-tahun, aku berkhayal melihat ke atas dan bertanya kepada Allah,
"Allah, apa yang Engkau lakukan?" Ia menjawab :

"Aku sedang menyulam kehidupanmu." Dan aku membantah," Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna
yang cerah? "Kemudian Allah menjawab," Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu dibumi ini. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke surga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu.
"Subhanallah...Beruntunglah orang2 yang mampu menjaring ayat indah Allah dari keruwetan hidup di dunia ini. Semoga Allah berkenan menumbuhkan kesabaran dan
mewariskan kearifan dalam hati hamba-Nya agar dapat memaknai kejadian2 dalam perjalanan hidupnya, seruwet apapun itu. Amin.

Subhanallah, tulisan ini benar-benar membuka pikiran kita bahwa Allah adalah Dzat Yang maha pengatur segala sesuatu di alam ini. Tulisan ini mengingatkan saya bahwa kendatipun manusia punya keinginan, tetapi Allah mempunyai keputusan yang tak mungkin dapat kita ubah. mari kita senantiasa bertawakkal kepada Nya.

posted by rezki @ 5:17 AM   0 comments
Aku Sangat Mencintaimu Mama
Publikasi: 08/03/2005 09:17 WIB

eramuslim - Siang itu dalam kereta tujuan Freiburg*.

Di dalam gerbong kereta, anak laki-laki 3 tahun itu tampak begitu resah, tak sabar, ingin segera sampai di tujuan. Sesekali melirik ibunya di samping, yang tampaknya sadar kegelisahan si kecil. Berkali-kali pertanyaan kapan tiba di tujuan selalu ditanyakan.

"Mama, mama bawa biskuit gak?" Sang Mama mengangguk singkat.
"Biskuit yang mana Mama?" desaknya lagi
"Yang ada coklat dan kacangnya".
"Nanti yah...sekalian kalau sudah sampai. Sebentar lagi kok" tambah sang Mama. Si kecil mengangguk.

"Mama?" kata anak itu kembali.
"Yah?" kali ini ada sedikit nada tidak sabar dalam suaranya.
"Mam, ich habe dich sehr lieb! (aku sangat mencintaimu Mama!)" senyumnya mengembang. Ibunya tersenyum mengangguk.

Penumpang lainnya tersenyum mendengarnya. Saya pun turut merasakan kebahagiaan yang saya yakin sekali pasti dirasakan sang Ibu.

Pemandangan yang mungkin masih jarang ditemui di tanah air. Bukan tidak ada, tapi masih jarang sekali. Ekspresi rasa sayang, rasa cinta sang anak yang begitu lugas, lepas pada ibunya. Bagaimana seorang anak bisa demikian bebas mengungkapkannya? Semuanya tergantung dari kita, orangtuanya.

Menjadi bukan hal yang lumrah jika kita orang tua juga tidak biasa mengungkapkan rasa sayang kita kepada mereka. Bagaimana mungkin bisa melakukannya, jika bagi kita sendiri ungkapan rasa cinta bukanlah suatu hal yang harus diverbalisasikan. Ada tembok kesungkanan, atau merasa aneh, ketika rasa cinta harus dilontarkan. Tabu.

Tak dipungkiri bahwa tanpa diungkapkan pun, seorang Ibu, seorang Ayah pastilah mencintai anak-anaknya. Sudah menjadi kodrat/fitrah kenyataan tersebut ada. Dari semua hal yang dilakukan orang tua kepada anaknya, mulai dari merawat, membesarkan, bermain bersama, mendidik, juga menasehati, semuanya tercurah luapan rasa kasih sayang.

Seberapa pentingkah pengungkapan tersebut? Saya pribadi melihat, kebisaan melakukan pengungkapan rasa cinta, rasa sayang hanya sepersekian persen dari kemampuan pengungkapan rasa lainnya.

Apabila ananda kita mampu belajar memformulasikan kehendak, semua perasaan dalam bentuk kata-kata, mereka akan lebih cerdas secara emosional dan sosial, insya Allah, akan lebih ringan menjalani kehidupan kelak. Kemampuan berkomunikasi secara verbal menunjukkan tingkat kecerdasan emosional seseorang.

Lawrence E: Shapiro, dalam bukunya yang terkenal, How to Raise a Child with a High EQ, mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional adalah ketika kita mampu menguasai emosi dan segala perasaaan. Ketika seorang anak mampu mengenali kemudian menyampaikan emosinya, tahapan menguasai emosi akan dia raih.

Sebagai orangtua yang bisa dilakukan adalah membantu anak kita untuk memverbalisasikan perasaan sebagai salah satu cara bagi sang anak kelak dalam menghadapi konflik dan memenuhi kebutuhan mereka.

Melatih mereka mengungkapkan perasaan berikut di dalamnya perasaan sayang, berarti membantu anak kita berkomunikasi secara verbal dengan lebih baik. Kita latih mereka untuk mengungkapkan tidak saja rasa sayang mereka, tapi juga rasa yang ada ketika mereka sedih, marah, kecewa, frustasi. Kita membuka lembaran diskusi yang buat mereka tidak sulit untuk terlibat di dalamnya.

Tidak mungkin mereka dapat melakukannya kalau contoh nyata dari kita pun tidak mereka dapatkan. Ajak mereka bicara dari hati ke hati. Percayalah, telinga si kecil selalu terbuka lebar dan menyerap banyak tanpa kita bisa duga.

Bayangkan, senangkah jika pasangan kita atau bahkan orangtua kita mengatakan, "Aku mencintaimu". Walaupun sungguh! kita sudah mengetahuinya sejak dahulu. Satu kalimat yang saya percaya membawa banyak, banyak sekali perubahan yang tak dinyana-nyana di dalamnya.

Nah, kenapa tidak kita lakukan itu pada anak kita. Kalaulah sering dituliskan" Sudah engkau ungkapkan rasa sayang hari ini pada pasanganmu?" Kenapa tidak ditambah, Sudahkah kita menyatakan rasa cinta kita hari ini pada sang buah hati?

Wallahu'alam bish showab

posted by rezki @ 5:07 AM   0 comments
Aku mencintai kau dan DIA
Hidupku tak sempurna tanpa kau dan DIA
Kau cantik, DIA sangat cantik
Kau molek, DIA sangat molek
Kau cerdas, DIA sangat cerdas
Kau pandai, DIA sangat pandai
Apapun yg kau punya, DIA lebih
Aku tak patut membandingkanmu dengan DIA
Akupun tak dapat melepaskan dirimu
DIA senang, bila aku menikahimu
DIA bahagia, bila aku meminangmu
DIA gembira, bila melihat kita bersama
Aku mencintaimu karena DIA
Tanpa DIA, hampa hidupku
Tanpa DIA, aku akan kehilanganmu
Tanpa DIA, aku akan kehilangan hidupku
DIA mengisi hatiku
DIA mengisi pikiranku
DIA selalu kuucap dalam bibirku
Karena DIA adalah Kekasih Sejatiku, Tuhanku
Allah Subhana Wataa'la..
posted by rezki @ 5:05 AM   0 comments
Antara Agresif, Pasrah Dan Proaktif

Publikasi : 13-03-2005

KotaSantri.com : Jodoh adalah rahasia Allah SWT, yang kadang tak terduga datangnya. Dalam masa 'penantian' yang tak kunjung datang, seorang akhwat dapat memilih untuk bertindak yang sesuai dengan keinginannya.
Ada tiga bentuk sikap yang bisa dilakukan oleh para muslimah dalam masa penantian ini, yakni; agresif, pasrah dan proaktif.

Karena terlalu cemas, ada sebagian yang memilih untuk bersikap agresif. Melakukan pendekatan kepada siapapun yang dianggap potensial untuk menjadi pasangan hidup dengan berbagai cara. Kadang tanpa perduli norma dan aturan agama.

Sikap ini ini bisa 'membahayakan' bagi seorang perempuan. Karena ketergesa-gesaannya bisa berakibat tidak baik. Misalnya saja dia tidak akan selektif dalam memilih siapa calon suaminya. Kriteria-kriteria suami idaman pun kabur tertiup oleh desakan-desakan keluarganya. Akibat yang paling buruk dari sikap ini adalah timbul penyesalan di kemudian hari. Tumbuhnya kekecewaan pada pasangan karena tidak terlalu mengenal karakternya yang berujung pada perceraian. Naudzubillah min dzalik!

Sikap kedua adalah sikap pasrah, sikap ini biasanya memiliki alasan, "Ya. Daripada jadi perawan tua, lebih baik saya terima."
Ada mungkin sebagian akhwat yang berfikir demikian, atau akan berfikir demikian. Biasanya ia tidak kuat menahan desakan orang tua atau keluarganya. Karena orang tua tidak ingin melihat anaknya menjadi perawan tua, maka ia mencarikan jodoh buat anaknya. Seandainya orang tua memahami betul kriteria-kriteria seorang suami yang sholeh, maka hal ini tentunya baik bagi si gadis, akan tetapi akan menjadi permasalahan yang serius ketika orang tuanya asal mencarikan laki-laki yang menjadi calon pasangan anaknya.

Kebanyakan orang tua sekarang pertimbangannya sangat pragmatis. Dia mencari jodoh buat anaknya dengan hanya menggunakan pertimbangan materi. Sehingga laki-laki yang dianggap berkecukupan, memiliki pekerjaan tetap maka dia layak jadi menantunya. Pertimbangan agama sama sekali dikesampingkan.

Dalam hal inilah sang akhwat dalam posisi dilematis. Untuk menolak jelas tidak mungkin, karena dia tidak punya alternatif. Untuk menerima terasa berat, karena laki-laki yang dibawa orang tuanya sangat jauh dari kriteria suami idamannya. Akhirnya dengan berat hati ia menerima laki-laki itu sebagai suaminya.

Pilihan yang paling cocok saat 'penantian' bagi akhwat adalah sikap proaktif. Bersikap proaktif bukan berarti pasrah tanpa usaha sama sekali, namun bukan pula bertindak tanpa perhitungan dan pertimbangan. Sikap proaktif itu berarti berdoa sekaligus melakukan upaya yang dibenarkan agama untuk merealisasikan doa tersebut.

Ada sebagian akhwat yang berpendapat, "Kalau memang jodoh merupakan bagian dari takdir Allah, mengapa kita harus mengejarnya? Bila sudah takdir pasti akan datang sendiri?" Saya kira ini lah kekeliruan logika sebagian manusia. Allah telah menetapkan takdir bagi kita para hambaNya. Yang mengetahui takdir hanya Allah semata, kita tidak tahu bagaimana nasib kita besok. Ketika kita tidak tahu takdir yang akan kita terima, sedang kita diperintah untuk melakukan kebaikan maka kita sebagai mukmin harus memilih jenis perbuatan yang baik.

Kita sebagai manusia dianugerahi akal dan pikiran. Disamping itu kita juga diberi hak ikhtiar (berusaha). Kita juga diberi pedoman berupa Al-Qur'an dan As-Sunnah, sehingga bisa membedakan kebaikan dan keburukan. Dengan begitu kita justru dituntut untuk berusaha dan beramal. Wallahu a'lam bishshowab. (Dikutip dari Mencari Cinta, Didik H.) (Ndhie Saliim)

posted by rezki @ 5:01 AM   0 comments
Ia yang Selalu Berbagi Kasih
Publikasi: 07/03/2005 08:26 WIB
The origin of the child is a mother and is a woman. One shows a man what love, sharing and caring its all about
Asal mula seorang anak adalah seorang ibu yang juga merupakan seorang wanita, seseorang yang mengajarkan seorang anak manusia tentang makna kasih sayang, sosok manusia yang senantiasa membagi dan menjaga seluruh kasihnya.

eramuslim - Untaian kalimat yang kubaca dalam sebuah majalah sekitar delapan atau sepuluh tahun yang lalu itu masih terpatri dalam ingatan meskipun aku sudah lupa siapa wanita yang mengucapkannya. Kalimat itu kuanggap penting karena kalimat singkat itu telah mengajarkanku betapa berartinya sosok seorang ibu.
Keberartian sosok seorang ibu juga telah berulang kali digambarkan dalam beberapa buah hadits. Sebuah hadits Muttafaq Alaihi menggambarkan situasi pada saat Asma' binti Abi Bakar R.A menanyakan perihal kedatangan ibunya yang masih musyrik pada masa Rasulullah. Lalu Asma meminta petunjuk kepada Rasulullah seraya berucap, "Ibuku telah datang dengan penuh harapan kepadaku, apakah aku harus menyambung hubungan dengan ibuku itu?"
Beliau menjawab, "Benar sambunglah hubungan dengan ibumu!"
Pada suatu ketika pernah datang kepada Ibnu Abbas R.A seorang laki-laki dengan mengatakan , "Aku telah melamar seorang wanita, tetapi wanita itu menolak untuk menikah denganku. Lalu dia dilamar oleh laki-laki lain dan dia senang untuk menikah dengannya, kemudian aku cemburu dengannya dan membunuh wanita itu. Apakah aku masih dapat bertaubat?" Beliau bertanya, "Apakah ibumu masih hidup?" Dia menjawab, "Tidak!" Selanjutnya beliau mengatakan , "Bertaubatlah kepada Allah Azza wa Jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya semampu kamu!". Atha' bin Yasar berkata, "Hadits ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas" lalu aku menemui Ibnu Abbas dan bertanya kepadanya, "Mengapa engkau menanyakan mengenai hidup ibunya?" Ibnu Abbas pun menjawab, "Sesungguhnya aku tidak mengetahui suatu amalan yang lebih dekat dengan Azza wa Jala selain berbakti kepada ibu" (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad).
Seorang psikoanalis barat bernama Erich Fromm pun tidak melepaskan pembahasan tentang cinta kasih ibu dalam beberapa bagian bukunya. Ia dengan indahnya mengungkapkan bahwa cinta ibu adalah peneguhan tanpa syarat terhadap hidup dan kebutuhan seorang anak. Cinta ibu akan mengajarkan tentang makna pemeliharaan dan tanggung jawab yang tentunya sangat penting bagi kelanjutan hidup dan perkembangan anak. Cinta ibu pulalah yang akan menanamkan rasa syukur pada Tuhan dalam diri setiap anak atas kehidupan yang diterimanya, atas jenis kelaminnya, dan atas kelahirannya di muka bumi. Rasa syukur setiap anak tersebut pada akhirnya akan membuat ia mencintai kehidupan dan bukan hanya berkeinginan untuk tetap hidup.
Ibu seringkali dilambangkan sebagai tanah atau alam, oleh karena itu muncul istilah, mother land atau mother nature. Hal ini terjadi karena ibu adalah sosok yang subur seperti halnya tanah dan alam yang menawarkan kelimpahan susu dan madu. Susu merupakan simbol pemeliharaan dan peneguhan kasih ibu. Sedangkan madu melambangkan kecintaan dan kebahagiaan dalam kehidupan. Banyak ibu yang dapat memberikan susu pada anak-anaknya, namun hanya sedikit yang mampu memberikan madu. Untuk dapat memberikan madu, seorang ibu tidak hanya harus menjadi ibu yang baik, namun harus menjadi sosok pribadi yang penuh kasih sayang. Yakni sosok perempuan yang lebih berbahagia dalam memberi dibandingkan menerima, serta sosok yang betul-betul kukuh berakar pada eksistensinya. Sehingga ia tidak lagi menginginkan apa-apa untuk dirinya sendiri.
Al-Quran juga telah mengingatkan keutamaan ibu dengan menggambarkan penderitaan yang dirasakannya dalam dua periode kehidupan (mengandung dan menyusui).
"Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku kamu kembali." (Luqman:14)
Cinta kasih ibu memang sulit untuk dicapai, karena cintanya yang bersifat sangat altruis dan tanpa syarat. Cinta dalam keadaan di mana satu pihak memerlukan segala bantuan dan pihak lainnya memberikan segalanya. Namun ketulusan dan kesabaran ibu dalam mencintai semua anak-anaknya telah membuat cintanya dikategorikan sebagai jenis cinta yang tertinggi dan sebagai suatu ikatan emosional yang paling luhur.
Dan jika saja ada yang bertanya apakah yang ingin kusampaikan pada ibu, mungkin penggalan kalimat dari Gus TF Sakai, seorang penulis dari Sumatera Barat ini dapat sedikit mewakili perasaanku "...Bu kupandang hidup ini dari segala sesutu yang pernah kudengar dari mulutmu. Kuterjemahkan ia dalam langkahku, dan kususun dalam baris-baris kalimat di mana aku belajar memahami sesuatu. Sesuatu yang harus kutemui dan yang bisa mengantarkanku, bukankah begitu?..."
posted by rezki @ 5:00 AM   0 comments
Ada Kekuatan di Dalam Cinta
Ada kekuatan di dalam cinta,
Dan orang yang sanggup memberikan cinta adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengalahkan keinginannya
Untuk mementingkan diri sendiri.
Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan,
Dan orang tertawa gembira adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah terlarut
Dengan tantangan dan cobaan.

Ada kekuatan di dalam kedamaian diri,
Dan orang yang dirinya penuh damai bahagia adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah tergoyahkan
Dan tidak mudah diombang-ambingkan.

Ada kekuatan di dalam kesabaran,
Dan orang yang sabar adalah orang yang kuat
Karena ia sanggup menanggung segala sesuatu
Dan ia tidak pernah merasa disakiti.

Ada kekuatan di dalam kemurahan,
Dan orang yang murah hati adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya
Untuk melakukan yang baik bagi sesamanya.

Ada kekuatan di dalam kebaikan,
Dan orang yang baik adalah orang yang kuat
Karena ia bisa selalu mampu melakukan yang baik
Bagi semua orang.

Ada kekuatan di dalam kesetiaan,
Dan orang yang setia adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi
Dengan kesetiaannya kepada Allah dan sesama.

Ada kekuatan di dalam kelemahlembutan,
Dan orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat
Karena ia bisa menahan diri
Untuk tidak membalas dendam.

Ada kekuatan di dalam penguasaan diri,
Dan orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengendalikan segala nafsu keduniawian.
..........

Disitulah semua letak-letak dimana Kekuatan Sejati berada....

Dan sadarlah bahwa kalian juga memiliki cukup Kekuatan untuk mengatasi segala masalah kalian. Dimanapun juga, seberat dan serumit apapun juga.
posted by rezki @ 4:57 AM   0 comments
3 Ikatan

Dari Abu Hurairah r.a.: Rasulullah berkata, “Selama engkau tidur, setan mengikat tiga ikatan di bagian belakang kepala masing-masing dirimu. Di tiap ikatannya ia membacakan dan menghembuskan kata-kata berikut, ‘Malam hari masih panjang untukmu, maka tidurlah kembali.’ Ketika orang tersebut bangun dan mengingat Allah, salah satu ikatan terlepas; dan ketika ia berwudhu, ikatan yang kedua terlepas, dan ketika ia melakukan sholat, ikatan ketiga terlepas dan ia bangun dengan penuh semangat dalam cara yang baik dan dengan hati yang baik di pagi hari; sebaliknya ia akan bangun dalam cara yang buruk, rasa malas (dan tidak dengan hati yang baik).”

posted by rezki @ 4:50 AM   0 comments
Dua Dayung di Kehidupan

Seorang adik angkatan bertutur, “Dulu Teh, saya kepengen banget masuk Teknik Elektro, karena dari dulu saya emang minat banget ama fisika dan sejenisnya, tapi orang tua menginginkan saya masuk kedokteran umum dan di PTN (Perguruan Tinggi Negri), walau saya coba komunikasikan keinginan saya, tapi mereka, terutama ayah, tetap dengan obsesinya. Nuansa demokrasi di keluarga saya memang kurang.

Perlahan obsesi mereka terserap dalam diri saya, maka saya pun bertekad untuk mewujudkan harapan orang tua tersebut. Toh saya juga melihat banyak kebaikan menjadi seorang dokter. UMPTN pertama saya gagal, saya tidak mau menyerah, dorongan keluarga memicu semangat saya untuk mencoba tahun berikutnya. Satu tahun itu saya ikut bimbel, persiapan benar-benar optimal. Tapi ternyata tahun berikutnya pun saya gagal, dan yang lebih menyakitkan, kegagaln itu lebih disebabkan oleh kesalahan teknis.

Tahun kedua ini saya diterima juga di Teknik Elektro sebuah PTS (perguruan Tinggi Swasta), yang sebenarnya sebelumnya merupakan cita-cita saya. Saya akhirnya masuk di sana. Tapi karena kadung menerima kedokteran sebagai pilihan dan obsesi, saya coba lagi tahun berikutnya, yang merupakan tahun terakhir kesempatan saya ikut UMPTN. Dan saya lulus Teh! Teteh bisa bayangkan gembira dan senangnya hati saya saat itu. Apalagi mengingat pilihan kedokteran sebelumya sama sekali bukan impian saya, justru Teknik Elektro. Saya sudah sangat mantap Teh, bahkan saya sudah merancang dan merencana jalan saya ke depan. Saya bayangkan senangnya juga keluarga saya. Lalu Teteh tahu apa yang terjadi? ...”

Sebentar matanya menerawang, perlahan bening sungai mengalir dari mata itu.

“Ayah malah melarang saya mengambil kesempatan itu. Ayah menyuruh saya tetap di Teknik Elektro. Saya mempertanyakan, dorongan dan keinginannya selama ini kemana? keinginannya yang sudah tertransformasi ke dalam diri saya itu di mana? Saya awalnya tidak menerima semua ini Teh. Bagaimana mungkin ketika pilihan saya sudah bersesuaian dengan pilihan Ayah, lantas Ayah membatalkan pilihannya itu. Saya bahkan bisa dikatakan marah. Kalau begini akhirnya, kenapa Ayah dulu selalu tawarkan kedokteran sebagai pilihan, bahkan kehendak ? padahal waktu itu pun Ayah tahu saya sudah punya pilihan sendiri. Tapi saat semuanya akan terlihat lancar, Ayah sendiri yang mengacaukannya.”

Ucapan yang dibarengi terengahnya nafas menunjukkan emosi yang goncang, namun kemudian dia bisa menguasai diri. Satu helaan nafas panjang menyela ceritanya.

“Hhhh...Kalau saya tidak mengenal Islam dan tidak ingat Alloh, mungkin keikhlasan dan kesabaran saya sudah tergadai. Dengan berbagai prasangka buruk pada Ayah dan juga Alloh, dengan penolakan akan kenyataan yang bagi saya terasa berat.
Alhamdulillah Alloh masih sayang saya, dengan sabar dan ikhlas, saya jadikan keduanya sebagai dayung penggerak perahu kehidupan yang saya naiki, dalam mengarungi selautan permasalahan.

Sabar ketika mendapat musibah, kalau ini bisa dikatan musibah, dan tetap ikhlas dengan ketentuan-Nya yang pasti indah. Karena saya yakin, Alloh tak kan menyia-nyiakan hamba-Nya yang telah meninta dan berusaha dengan sungguh-sungguh, dan Alloh akan berikan yang terbaik bagi hamba-Nya, bagaimana pun wujud kebaikan itu, walau mungkin di awal terasa pahit..”

Dan aku pun belajar banyak dari penuturannya hari itu...

Siska Lestari

eramuslim -
Publikasi: 30/04/2004 14:46 WIB
posted by rezki @ 4:46 AM   0 comments
about me
Udah Lewat
Archives
Sponsored Ads
Links
Template By
Free Blogger Templates